BACA BUKU

Kegeraman terhadap Penyebar Fitnah

MELIHAT dan membaca linimasa selama beberapa tahun terakhir membuat kita jengah dan letih. Berita yang tidak jelas sumbernya acap kali berseliweran. Tak jarang berita itu menyudutkan, menuduh, atau memfitnah seseorang atau golongan tertentu.

Linimasa seolaholah menjadi arena untuk menyebar ketidaksukaan seseorang terhadap orang lain atau kelompok tertentu terhadap kelompok lain. Terlebih lagi, pada tahun politik ini.

Kabar-kabar yang tidak benar lahir setiap hari di linimasa. Tidak hanya terhadap partai politik, calon pemimpin daerah, ataupun organisasi kemasyarakatan dan agama, bahkan presiden pun menjadi sasaran berita bohong (hoaks).

Tentu saja apa yang orang-orang tak bertanggung jawab itu unggah untuk menggiring opini masyarakat milenial pengguna linimasa dan penikmat media dalam jaringian (daring) agar mengantipasti sasaran berita hoaks itu.

Kita tentu masih ingat dengan keterungkapan sindikat penyedia jasa konten kebencian Saracen oleh kepolisian beberapa waktu lalu. Mereka membuat berita hoaks berisi kebencian perihal suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Memanfaatkan kondisi sebagian besar masyarakat di Tanah Air yang dangkal dalam berpikir, berita fitnah yang diunggah oleh Saracen akan mudah dibagibagikan dan disebarkan oleh pengguna linimasa. Celakanya lagi, banyak konten berisi ujaran fitnah dan kebencian itu dipesan oleh kelompok tertentu.

Carut-karut kondisi mutakhir bangsa kita karena kabar hoaks itu tentu saja membuat kita geleng-geleng kepala. Para tokoh nasional, tokoh partai politik, aparat keamanan, tokoh agama, budayawan, seniman pun geram atas situasi tersebut. Ajakan dan imbauan terus digencarkan untuk melawan berita-berita hoaks.

Orang Tanpa Kepala

Kegeraman yang sama juga menyeruak dalam diri penyair asal Solo, Sosiawan Leak. Keprihatinan Leak atas kondisi masyarakat melahirkan puisi-puisi yang sebagian termaktub dalam buku kumpulan puisi termutakhirnya, Sajak Hoax. Dalam buku ini, puisi yang berjudul ìSajak Hoaxî (dalam Episode Puisiserapah) menjadi kesimpulan kegelisahan lelaki berambut gondrong itu.

Menurut dia, orang-orang yang membuat berita hoaks atau mereka yang dengan mudah menerima berita itu tanpa berpikir lebih dalam, lalu menyebarkan lagi, analogi dengan orang-orang tanpa kepala. Kata-kata yang lahir dari pembuat konten hoaks menjelma sihir provokasi, lendir agitasi, kedangkalan nurani, menabur kebodohan dan iri dengki. Kepicikan gagasan mereka durjana ketimbang lapar dan dahaga.

Adapun mereka yang menelan mentah-mentah berita hoaks begitu saja, dia sebut sebagai orang yang tersesat di hutan maya, jatuh cinta pada kebohongan masal, komunikasi tinggi hati, komentar benci dan kasih sayang selfie (halaman 164).

Dalam buku ini ada 79 puisi. Leak menulis puisi-puisi itu sejak 1992 hingga 2017. Keseluruhan ouisi itu terangkum dalam 12 episode atau subtema, yaitu Galagampus, Cemasmara, Jarahabis, Monsterideot, Fobiarumah, Bisakandang, Apatiselingkuh, Tubahewan, Kesatriasia, Dioramanegeri, Hidupunah, dan Puisiserapah. Sajak Hoax menjadi catatan perjalanan proses kreatif penyair ini dalam menyuarakan kritik.

Sosiawan Leak dikenal lewat puisipuisinya yang lugas. Kita hampir tidak menemukan kata-kata bermetafora indah dalam puisinya. Namun itulah letak kekuatan dia. Buku ini harus dan perlu kita baca. Dan, mari kita lawan berita hoaks. (Ryan Rachman- 44)


Komentar