Adu Indah Gerakan Silat

SM/Sofie Dwi Rifayani  -  FOTO BERSAMA : Sejumlah peserta Festival Seni Silat 2018 ”Aku Cinta SIlat Indonesia’’foto bersama usai tampil. (53)
SM/Sofie Dwi Rifayani - FOTO BERSAMA : Sejumlah peserta Festival Seni Silat 2018 ”Aku Cinta SIlat Indonesia’’foto bersama usai tampil. (53)

TAK banyak yang menekuni, tak banyak yang menikmati. Namun, nyatanya, pesona silat tidak tertandingi. Perihal itu terbukti saat pelaksanaan Festival Seni Silat 2018 ”Aku Cinta Silat Indonesia”, Senin (2/7) lalu.

Satu per satu kelompok maju, tepat di depan panggung utama setinggi dua meter. Ada yang memulai aksi sebelum musik mulai, ada pula yang serempak bergerak sesuai dengan alunan yang terdengar. Musiknya bermacam-macam, sesuai pilihan kelompok.

Beberapa menggunakan lagu dari grup band terkenal, sebagian lainnya mengandalkan musik iringan pencak silat. Tidak cuma berkostum serasi, masing-masing kelompok juga berusaha memamerkan kekompakan saat melakukan gerakan-gerakan silat. Hasilnya, jurus demi jurus terlihat luwes dimainkan.

Aksi mereka terlihat lengkap lantaran sebagian besar tim membawa perangkat tangan, seperti tongkat, pedang, keris, dan kipas. Yang paling menarik perhatian juri ialah Benteng Diri Indonesia Kota Semarang. Kelompok silat ini menampilkan jurus-jurus yang variatif, dengan gerakan padu nan apik.

Atas aksi tersebut, juri yang terdiri dari para pegiat seni dan silat, yakni Suroto, Woko Fajar Feriyono, dan Arifian Tri Kurniawan itu mengganjar kelompok ini sebagai juara pertama Festival Seni Silat kategori umum. Pemenang lomba ini ialah mereka yang memenuhi kriteria juri dalam menampilkan kekompakan, ketepatan waktu, power, keindahan gerak, kesesuaian gerak dengan musik.

Lomba yang berlokasi di Lapangan Hitam Tata Niaga Polines itu ditutup dengan pengumuman lomba koreografi silat kategori umum. Adalah kelompok silat Perisai Diri 10, yang akhirnya berhasil membawa pulang juara dua dan Benteng Diri Indonesia Kabupaten Semarang di posisi ketiga.

Adapun juara kategori anak-anak secara berurutan dimenangkan Benteng Diri Indonesia Kota Semarang sebagai juara pertama, juara kedua ialah Benteng Diri Indonesia Kabupaten Semarang, dan Tapak Suci Banyumanik sebagai juara tiga.

Ide Awal

Ketua panitia, Ika Veronica Anggraeni, membocorkan bahwa ide Festival Seni Silat 2018 berasal dari dirinya. Tercatat sebagai anggota silat Perisai Diri, Vero, sapaannya, pernah tak sengaja menonton pertunjukan silat internasional di area Malioboro, Yogyakarta.

Keindahan gerakan silat tersebut membuat Vero selalu terkenang. Mahasiswa Manajemen Pemasaran Polines semester akhir ini lantas tergerak untuk menggarap acara serupa, yang sekaligus menjadi proyek akhir perkuliahannya.

Bersama dua teman, Vina Kemala Dewi dan Ira Rita Dewi, Vero pun mematangkan konsep acara. Tidak mau salah langkah, Vero berkonsultasi dengan sang guru di perguruan silatnya. Alih-alih ingin menggelar pertandingan silat, yang akhirnya dipilih justru lomba koreografi silat.

Vero mengungkap, kompetisi itu belum pernah berlangsung di Polines, bahkan jarang ditemukan di Semarang. ”Karena banyak yang belum terbiasa dengan lomba seperti ini, kami agak kesulitan mencari peserta. Tapi, akhirnya terdaftar 11 tim yang berkompetisi,” jelas Vero. Vero mengaku terharu melihat penampilan para peserta.

Maklum, keinginannya untuk mengenalkan dan menanamkan rasa cinta terhadap silat seolah tercapai. Ia juga berharap upaya ”kecil” ini bisa membantu melestarikan silat sebagai salah satu budaya Indonesia. Dan, secara khusus bisa membangkitkan kegiatan silat di Polines. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Komentar