• KANAL BERITA

Piala Dunia 2018

Para "Pesulap Samba" Mulai Tebar Pesona

Oleh Amir Machmud NS

Foto Istimewa
Foto Istimewa

PESTA telat para seniman bola, tak mengurangi "kegilaan" pesulap-pesulap Samba menyihir atmosfer Piala Dunia di Rusia. Dua gol dari dua penggocek penuh magi, Philippe Coutinho dan Neymar Junior, akhirnya memenangkan Brasil atas Kosta Rika. "Gilanya", dua gol itu tercipta di menit-menit akhir tambahan waktu.

Kosta Rika pun geleng-geleng kepala. Merekalah yang seharusnya berpesta layaknya menang, karena mampu menahan imbang sang juara dunia lima kali berkat heroisme kiper Keylor Navaz. Namun dengan besar hati akhirnya harus rela menyaksikan Brasil yang bagai merayakan "karnival" ala Rio de Janeiro di Stadion Saint Petersburg.

Ya, Brasil memang "unjuk magi bola" di hampir sepanjang laga yang "buntu" hingga selesainya waktu normal. Para artis Samba, terutama Neymar, bagai "adol bagus" di hadapan pragmatisme praktis Kosta Rika yang bermain disiplin di lini pertahanan dan tengah. Aksi-aksi Neymar, Gabriel Jesus, Coutinho, Willian, dan Marcello, sungguh seperti tarian maut yang mengepung calon korban dalam ritus sesajian kosmologi alam metafisika.

Tak berlebihan jika dikatakan, Brasil mempertontonkan ekspresi dari dimensi lain sepak bola. Dan, karena eksepsionalitas seperti itulah maka aksi-aksi Selecao selalu dinanti dalam setiap putaran final Piala Dunia. Brasil menjadi faktor pembeda sebagai tim dari "tanah suci" sepak bola.

Bebas Berekspresi

Abdenor Leonardo Bacchi alias Tite, yang biasa dipanggil "Pak Profesor" oleh anak-anak asuhannya, memberi kebebasan untuk mengekspresikan kemampuan individu. Ia mengembalikan hakikat sepak bola indah jogo bonito ke habitat hati, sebagai bagian alamiah ungkapan rasa. Anak-anak Samba.yang bermain di liga-liga Eropa pun tidak dikekang dengan keteraturan struktur organisasi permainan ala rumus-rumus manajemen dari Benua Biru.

Matematika Tite adalah, sepanjang kebebasan itu bermuara pada terciptanya gol, maka di situlah jogo bonito mendapatkan makna. Ego pemain disatukan ke dalam kolektivitas rasa untuk "menari" dan bergembita. "Kebahagiaan" seperti dalam aura tim 1970, 1982, dan 1986 itulah yang dia kelola, untuk membedakan pendekatannya dari pelatih-pelatih pragmatis Brasil seperti Sebastiao Lazaroni, Carlos Dunga, atau Wanderley Luxemburgo.

Masalahnya memang, pilihan sikap Tite itu belum teruji untuk meraih trofi dunia 2018. Neymar dan kawan-kawan masih harus berjuang mengalahkan Serbia dalam laga grup terakhir, 28 Juni nanti. Selama ini, Brasil di Piala Dunia selalu identik dengan pertarungan ideologi, apakah bersikukuh dengan "sepak bola bawah sadar" dengan kultur Samba-nya, atau memilih jalan pragmatis yang penting memenangi pertandingan-pertandingan dan mengangkat copa. Dunga menyebutnya sebagai sikap efektif - efisien.

Perdebatan itu masih terus berlangsung, karena para penggemar sepak bola tak mau kehilangan magi sepak bola karnival yang dihembuskan dari napas kehidupan rakyat Brasil. Pada sisi lain, dalam jalan pikiran orang Brasil, kemenangan harus dicapai dengan cara indah. 

Akankah tim Tite sekarang konsisten dengan sikap permainan: yang menghibur sekaligus memenangi pertandingan? Atau dalam perjalanannya nanti tersandung taktik tim lawan yang mampu meredam segala aspek antitesis terhadap kultur Brasil?

Awalan langkah Selecao di Piala Dunia kali ini agak kurang mengesankan, ditahan defensivitas Swiss 1-1, sebelum menggeliat dengan mengalahkan Kosta Rika yang bermain tanpa inferioritas. Perjalanan masih panjang, karena untuk lolos grup saja persaingan belum berakhir antara Brasil, Swiss, dan Serbia yang masih sama-sama punya peluang.

Setidak-tidaknya, para pesulap Negeri Samba telah mulai mempertontonkan bagian dari cara bermain yang membuat mereka selalu dirindukan di Piala Dunia.

Kita menunggu lagi Neymar cs "adol bagus" atau "tebar pesona"...

-- Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah


(Red/CN26/SM Network)