• KANAL BERITA

"Takdir" di Balik Lionel Messi

Oleh Amir Machmud NS

Foto: istimewa
Foto: istimewa

BENARKAH  trofi Piala Dunia memang tidak ditakdirkan untuk Lionel Andres Messi?

Tanda-tanda ke arah itu agaknya makin tampak terang. Seberapa pun hebat pencapaian-pencapaian individu di level klub, berupa trofi maupun lima kali gelar pemain terbaik sejagat, Piala Dunia lebih "memilih" untuk memihak kepada dua bintang Argentina di masa lampau: Mario Kempes dan Diego Armando Maradona. Messi yang sejak 2006 berjuang dalam empat putaran final, seolah-olah tidak berhak menyentuhnya. Empat tahun lalu, ketika tim nasional Argentina dituntunnya hingga partai puncak, La Pulga mengalami kekecewaan yang berulang: kalah 0-1 melawan Jerman.

Dalam turnamen mayor lainnya, Copa America, Messi juga tak mampu membawa Albiceleste berjaya. Dua kali melaju ke final pada 2016 dan 2017, dua kali pula Messi gagal di kaki Chile. Prestasi puncaknya bersama tim nasional "baru" medali emas untuk tim Olimpiade 2008.

Statistik inilah yang sering dijadikan amunisi pembidik oleh para pengkritiknya untuk membandingkan dengan Maradona. El Pibe de Oro membawa Argentina juara dunia 1986, walaupun dari sisi gelar individu dan pencapaian klub, jauh dari semua yang sudah dibendaharakan oleh Messi.

Nasib Messi, yang sebelumnya menyandang predikat sebagai The Next Maradona, bakal lebih tragis andai di Rusia kali ini, gagal meloloskan timnya dari fase grup. Kekalahan 0-3 dari Kroasia praktis membuat perjalanan tim juara 1978 dan 1986 itu tergantung pada hasil-hasil pertandingan lain Grup D. Argentina akan menghadapi Nigeria di laga terakhir, sedangkan Kroasia yang sudah aman ditantang oleh Islandia, setelah sebelumnya tim debutan Piala Dunia itu bertanding melawan Elang Afrika.

Dalam sebuah wawancara televisi yang dikutip IndoSport dari ESPN, ibu Messi, Celia Cuccittini, mengakui putranya sangat tertekan oleh pemberitaan media dan kritik fans atas penampilannya melawan Islandia. "Saya tahu, cita-ita Leo adalah memenangkan Piala Dunia. Itu keinginan terbesar yang lebih dari siapa pun. Saya melihat dia menderita dan menangis waktu itu," kata Celia.

Keluarganya menderita ketika semua kritik menyatakan bahwa Messi dituding tidak merasakan dan bermain hanya sebagai kewajiban. "Itu sangat menyakitkan. Untungnya, masih banyak orang yang sangat mencintai dia".

Mengundurkan Diri

Peraih lima kali Ballon d'Or itu pernah berniat mengundurkan diri dari tim nasional selepas kekecewaan dari final 2014, namun dia berhasil dibujuk untuk kembali, antara lain diyakinkan oleh Maradona yang menjadi pelatihnya pada 2010. Namun, dengan usia yang kini 30, masih adakah peluang untuk membawa pulang Piala Dunia pada 2022 di Qatar ketika ia telah berumur 34 tahun?

Peluang terbaik Messi (seharusnya) adalah empat tahun lalu di Brazil, saat ia sedang berkibar di puncak penampilan. Dari babak grup, perlahan tapi pasti ia menjadi sentral permainan dan faktor pembeda, melangkajh dari fase ke fase sebelum final. Dan, itulah agaknya yang mennadi kekecewaan terbesar. Ia bahkan menolak naik ke podium untuk menerima piala sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2014.

Pada 2010, ia belum menjadi pemimpin. Ban kapten dipercayakan kepada Javier Mascherano. Oleh coach Maradona Messi diplot sebagai "pelayan" dengan umpan-umpan terukurnya untuk Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain. Sedangkan empat tahun sebelumnya di Jerman, ia belum menjadi pilihan utama pelatih Jese Pekerman, tetapi mulai menunjukkan potensi sebagai tempat bergantung tim seperti Diego Maradona pada 1982.

Dari fakta-fakta ini, terutama performa Argentina sebagai tim yang kurang meyakinkan dalam dua pertandingan di Rusia kali ini, rasanya sulit bagi Messi untuk "memulihkan" diri. Dia makin tertekan dengan beban sorotan yang pasti makin menjadi-jadi. Sentuhan-sentuhan magisnya sama sekali tak terlihat di hadapan Luka Modric cs. Elemen-elemen tim Argentina juga tidak seperti kolektivitas dukungan para pemain di sekeliling Maradona di Meksiko 1986 atau di Italia 1990.

Sudah banyak legenda Argentina yang mendorong agar Messi rileks menghadapi kenyataan penampilannya di timnas. Hernan Crespo atau Mascherano misalnya, menyebut dengan atau tanpa gelar juara Piala Dunia, Messi akan tetap menjadi pemain besar.

Lalu apakah takdir memang tidak berpihak kepadanya, sehingga Messi tak akan pernah meraih Coppa del Mundo? Jawabannya, tak ada manusia yang berhak menyimpulkan tentang garis takdir. Namun kesedihan, keputusasaan, beban jiwa, dan pasti jeritan hati bintang Barcelona itu dapat kita rasakan.

Bagaimanapun ia tidak sendirian: masih ada sang ibu, Celia, pelatih Jorge Sampaoli, dan rekan-rekannya yang juga didera kepedihan. Bagi saya, Messi -- seperti juga Cristiano Ronaldo pada era yang sama -- adalah "dewa" dalam tataran yang setara dengan Pele, Michel Platini, Johan Cruyff, Maradona, Zinedine Zidane, Ronaldo Luis Nazario, Ronaldinho, atau Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas di masa lampau.

Dengan takdir apa pun, dunia tak akan menghapus reputasi dan jejaknya...

-- Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah


(Red/CN26/SM Network)