• KANAL BERITA

Kurangnya Sosok Pemimpin di Chelsea Menjadi Sorotan

Foto: Ben Stansall / AFP / Getty Images
Foto: Ben Stansall / AFP / Getty Images

LONDON, suaramerdeka.com - Setelah menjadi juara, prestasi Chelsea di Premier League menurun hingga menjadi sorotan. Selain itu, sorotan juga mengarah kepada kurangnya sosok pemimpin dan karakter kuat di dalam tim.

"Ketika saya mengingat lagi ke masa itu, saya teringat sebuah tim penuh dengan para pemimpin. Kami punya Michael Ballack, Didier Drogba, Claude Makelele, John Terry, Frank Lampard, Ashley Cole...," ungkap eks pemian Chelsea, Wayne Bridge dikutip  Sky Sports.

Musim ini dituntaskan Chelsea di peringkat lima Premier League, dengan selisih 30 poin di belakang Manchester City yang juara. The Blues juga 11 poin tertinggal dari Manchester United yang jadi runner-up, lalu tujuh poin dari Tottenham Hotspur (posisi tiga), dan lima poin dari Liverpool (posisi 4).

Semusim sebelumnya, Chelsea tampil sebagai juara usai mengumpulkan 93 poin, hasil dari 30 kemenangan dan tiga kali berimbang. Sementara musim ini, anak-anak London barat cuma memetik 21 kemenangan dan tujuh kali berimbang dalam 38 pekan.

Pemandangan serupa terjadi di musim 2015/2016, di mana Chelsea yang masih ditangani Jose Mourinho ketika itu finis di posisi 10 tepat semusim setelah juara. Mourinho pun didepak dan digantikan Antonio Conte.

Salah satu pengaruh terbesar ketidakstabilan Chelsea disebut Bridge, adalah kurangnya sosok pemimpin. Tim ini dinilai terlalu 'sunyi' di lapangan, terlebih setelah kehilangan pemain-pemain berkarakter kuat seperti John Terry, Diego Costa, atau Nemanja Matic.

"Saya rasa jelas ada masalah kepemimpinan, 100 persen. Saya melihat ke Chelsea yang sekarang dan tak melihat ada banyak pemimpin. Saya rasa itu sesuatu yang perlu mereka tangani kalau mau bersaing untuk gelar-gelar. Mereka perlu berbelanja dan berusaha mendatangkan pemain tipe tersebut."

Saat ini Gary Cahill dan Cesar Azpilicueta bertindak sebagai kapten tim di Chelsea. "Bukan cuma pemain berkualitas bagus, tapi juga pemain yang punya sedikit karakter, pemain yang bisa memimpin tim melalui momen-momen sulit. Anda tak mau cuma ada satu pemain memimpin tim. Satu bagian besar atas kesuksesan adalah punya sebuah grup yang bisa memberikan kepemimpinan," imbuhnya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)