• KANAL BERITA

Mundur, Aji Santoso Akui Sulitnya Berkompetisi di Liga 2

JUMPA PERS: Aji Santoso (kiri)  memberikan keterangan didampingi pemainnya Aldaer Makatindu dalam sesi jumpa pers. (suaramerdeka.com / dok)
JUMPA PERS: Aji Santoso (kiri) memberikan keterangan didampingi pemainnya Aldaer Makatindu dalam sesi jumpa pers. (suaramerdeka.com / dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com- Aji Santoso memutuskan mundur dari kursi pelatih kepala PSIM Yogyakarta per Rabu (9/10) malam usai rentetan hasil buruk yang didapat anak asuhnya. Juru taktik asal Malang itu pun mengakui sulitnya berkompetisi di Liga 2 dibanding kompetisi Liga 1. Saat disinggung soal sulitnya karena ada faktor nonteknis yang kerap jadi perbincangan panas di kompetisi kasta kedua, Aji memiilih bungkam.

“Saya tidak mau menilai. Yang jelas tidak ada jual pertandingan PSIM lawan Sulut United. Saya orangnya kalau A saya bilang A. Kalau B saya bilang B. Anaknya malaikat kalau salah juga tidak akan saya bela, anak setan kalau benar maka saya akan bela. Bagaimanapun saya memegang teguh kejujuran," tegas dia, kemarin.

Selain meminta maaf pada pandemen PSIM lantaran belum dapat mempersembahkan prestasi, Aji juga membantah tegas adanya rumor miring dibalik kekalahan timnya dari Sulut United di kandang, 4 Oktober lalu. Sebab, ia mendengar rumor miring, pada pertandingan tersebut dituding ada main mata demi menyelamatkan Sulut United yang saat itu dalam ancaman degradasi. Apalagi, PSIM dan Sulut United yang dulunya Bogor FC, disebut memiliki 'kedekatan'.

“Saya mendengar rumor bahwa pertandingan PSIM lawan Sulut United itu dijual atau kita disebut membantu Sulut United, itu sangat tidak benar. Kami tetap fight, tapi hasilnya kita tetap kalah. Saya sangat respect dengan pengurus (PSIM) saat ini, walaupun ibaratnya saudara tiri (dengan Sulut United-red), tapi tidak ada main mata,” tambah Aji.

Menurutnya, manajemen sudah berupaya maksimal untuk tim musim ini. Kalau pun gagal lolos ke Liga 1, Aji berharap hal itu jadi pelajaran penting bagi tim. “Manajemen sudah berbuat maksimal untuk menjadikan tim ini bagus. Untuk membentuk satu tim tidak mudah. Kalau bicara persentase keseriusan PSIM untuk naik kasta, juga saya rasa paling besar tahun ini. Jadi saya rasa wajar menjadikan pelajaran jangan sampai tahun kedua jangan terjadi lagi,” tutur dia.

Dia pun mengapresiasi positif dengan keberadaan manajemen PSIM saat ini.

“Saya sangat positif dengan manajemen PSIM yang sekarang, mereka benar-benar murni bermain sepak bola, tidak punya pikiran-pikiran yang lain. Kalau Liga 2 semua owner klub punya pemikiran seperti owner PSIM, sepak bola akan berjalan bersih, saya sangat salut juga. Manajemen ingin prestasi murni dihasilkan dari tim, bukan faktor yang lain,” tandas pria yang saat ini akan kembali berkumpul bersama keluarga dahulu meski sudah ada beberapa tawaran melatih klub lain yang menunggu.


(Gading Persada /CN26/SM Network)