• KANAL BERITA

20 Persen Teknis, 80 Persen Mental dan Spiritual

Sukses Prestasi Olahraga ala Indra Sjafri

BERBAGI PRESTASI : Indra Syafri dan Naila Novatanti berbagi pengalaman sebagai pelatih dan atlet berprestasi dalam seminar nasional di Solo, Senin (19/8). (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
BERBAGI PRESTASI : Indra Syafri dan Naila Novatanti berbagi pengalaman sebagai pelatih dan atlet berprestasi dalam seminar nasional di Solo, Senin (19/8). (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

PELATIH  sepak bola nasional Indra Sjafri berpesan pada para atlet cabang olahraga apa pun untuk taat beribadah, disiplin, menjunjung nilai-nilai sportifitas, dan menjaga mentalitas, selain menguasai hal-hal bersifat teknis. Sebab, kata dia, sukses prestasi olahraga seseorang itu, hanya 20 persen saja yang ditentukan oleh kemampuan teknis, selebihnya atau 80 persen ditentukan oleh mental dan spiritual.

Sjafri mengatakan, beberapa kali dirinya mengantarkan anak-anak anggota tim nasional yang dilatih pergi ke gereja atau pura untuk beribadah. Dia selalu mengingatkan para pemainnya yang beragama Islam untuk tidak melupakan shalat lima waktu.

"Atlet di Indonesia itu harus berkarakter, berbudaya, dan berpancasila. Dengan berdoa, baik saat berlatih, atau sebelum dan sesudah bertanding, berarti sudah mengamalkan sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa," kata coach Indra, begitu dia akrab disapa.

Hal itu dikatakan ketika menjadi pembicara dalam seminar nasional apresiasi Pancasila 2019 di Solo, Senin (19/8). Seminar bertema "Membangun Mentalitas Seorang Ikon" itu dihadiri peserta dari insan olahraga, baik atlet, pelatih, wasit, juri, maupun guru olahraga. Pembicara lain, Naila Novatanti, atlet sekaligus pelatih skydiving internasional.

Jika dikelola secara benar, profesional, jujur, amanah, dan sportif, kata Indra selanjutnya, olahraga akan menyatukan anak bangsa dan menghilangkan sekat suku agama ras, dan antar golongan, selain prestasi yang optimal. Dia punya banyak pengalaman untuk yang satu itu.

Kedekatan Personal

Suatu kali, dia disodori pemain sepak bola untuk bertanding dalam kejuaraan di luar negeri. Dari enam kali bertanding, lima kali kalah dan sisanya draw. Setelah dievaluasi, ternyata pemain-pemain itu hanya dari wilayah Jakarta dan sekitar. Pemilihannya pun bukan semata-mata prestasi dan kemampuan teknis, tapi berdasar kedekatan personal dan nepotisme.

Akhirnya dia blusukan ke sana ke mari ke berbagai daerah untuk mencari pemain. Dari materi pemain itu, prestasinya cukup bagus. Dan ketika bertanding di daerah, dukungan masyarakat setempat sangat tinggi karena putra daerahnya merasa dilibatkan.

"Saat tim yang saya tangani bertanding di Aceh, stadionnya penuh dengan penonton, padahal saat itu di kota tersebut ada acara salah satu partai besar. Beberapa saat kemudian, saya sempat disalami dan dipeluk salah seorang panglima GAM yang ikut menonton. Dia bilang, baru kali ini, saya merasa jadi orang Indonesia," kata Coach Indra.

Dalam kesempatan itu, coach Indra juga berpesan pada para atlet muda untuk berlatih dengan sungguh-sungguh. Demikian juga dengan para pelatih, hendaknya juga melatih dengan sungguh-sungguh pula. Jangan banyak merengek, jangan banyak menuntut, tapi tunjukan prestasi terlebih dulu. Zohri, juara dunia lari junior bisa menjadi panutan bagi para atlet muda yang ingin berprestasi di level dunia.

"Sebagai pelatih nasional, gaji saya selama 17 bulan berturut-turut sempat tidak dibayar hingga saya hampir pisah dengan istri. Tapi karena pekerjaan pelatih itu saya jalani dengan iklas, dan tetap profesional, saya mendapat ganti yang lebih. Gaji selama 17 bulan yang tertunda akhirnya dibayarkan tanpa potongan, saya bisa berhaji, dan saya kembali ditunjuk sebagai pelatih nasional," tandasnya.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)