• KANAL BERITA

Raja Jogja: Kasus Match Fixing Tindakan Tak Bermoral

CEK RUMPUT: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (dua dari) didampingi sejumlah pejabat Pemprov DIY mengecek rumput di salah satu sudut Stadion Mandala Krida Baru Jogja. (suaramerdeka.com / Gading Persada)
CEK RUMPUT: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (dua dari) didampingi sejumlah pejabat Pemprov DIY mengecek rumput di salah satu sudut Stadion Mandala Krida Baru Jogja. (suaramerdeka.com / Gading Persada)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X angkat bicara soal terjadinya praktik  match fixing  di dunia sepak bola Indonesia. Sri Sultan bahkan dengan tegas menganggap bahwa praktek kotor tersebut adalah tindakan tak bermoral. “Ya itu tindakan tidak bermoral itu saja. Merusak itu!,” tegas Sri Sultan.

Bahkan pria yang juga Gubernur DIY itu makin prihatin menyusul adanya orang Jogja yang tersangkut bahkan sudah menjadi tersangka dan ditahan karena dugaan pengaturan sejumlah pertandingan di kompetisi Liga 2 dan Liga 3. “Sungguh prihatin saja karena sudah mencoreng banyak hal,” imbuh dia.

Seperti diketahui, tim Satgas Antimafia Bola bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnvian  sudah menangkap lima orang atas dugaan pengaturan skor di liga sepak bola Indonesia. Mereka yakni mantan anggota Komisi Wasit Prianto (Mbah Pri) dan Anik Yuni Artikasari alias Tika (anak Mbah Pri). Lalu ada anggota Exco PSSI Johar Lin Eng dilanjutkan dengan penangkapan anggota Komdis PSSI nonaktif Dwi Irianto alias Mbah Putih. 

Teranyar, wasit asal Garut yakni Nurul Safarid  ditangkap polisi lantaran diduga terlibat pengaturan skor dalam pertandingan sepak bola Liga 3 2018 antara Persibara Banjarnegara kontra Persekabpas Pasuruan. Termasuk adanya pengakuan dari M Irham, wasit Liga 2 asal Jogja yang buka-bukaan adanya pengaturan laga di depan Satgas Antimafia Bola.

Sri Sultan menambahkan, permainan dalam sebuah olahraga adalah perlu suportivitas. Dia pun menyebut tindakan pengaturan skor itu adalah tindakan yang tidak sportif. “Iya jelas itu tidak sportif (pengaturan skor-red). Sekali lagi itu merusak moral,” lanjutnya.

Sementara itu Johan Arga, kakak dari pemain PS Mojokerto Putra, Krisna Adi Darma yang disebut-sebut saksi kunci kasus pengaturan laga menganggap bahwa Satgas Antimafia Bola harus bekerja ekstra keras untuk bisa membongkar praktek-praktek yang terjadi di dunia sepak bola Indonesia.

“Saya menjadi pemain sepak bola sangat lama dan banyak menemui hal-hal itu (match fixing). Ini sudah terjadi bertahun-tahun jadi Satgas harus ekstra keras bekerja dan berani membongkarnya. Butuh sinergi semua pihak tak hanya dari penegak hukum saja tapi dari PSSI juga dibutuhkan hal tersebut,” tandas Johan Arga.


(Gading Persada /CN26/SM Network)