• KANAL BERITA

Mbah Putih Ditangkap, Pihak Keluarga Belum Tentukan Langkah

BERI PENJELASAN: Berlandika Candra Pramdikta, putra kedua Dwi Irianto atau Mbah Putih memberikan penjelasan perihal penangkapan ayahandanya. (suaramerdeka.com / Gading Persada)
BERI PENJELASAN: Berlandika Candra Pramdikta, putra kedua Dwi Irianto atau Mbah Putih memberikan penjelasan perihal penangkapan ayahandanya. (suaramerdeka.com / Gading Persada)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Gerak Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Sepak bola terus berlanjut. Sehari setelah menangkap anggota komite eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng dan dua orang lainnya, hari ini, Satgas giliran menangkap salah seorang anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Dwi Irianto. Nama Dwi Irianto yang akrab disapa Mbah Putih diduga turut terlibat dalam pengaturan skor yang terjadi di kompetisi sepak bola Indonesia, tepatnya di Liga 2 dan Liga 3.

 

Informasi yang dihimpun, Mbah Putih ditangkap sejumlah personel Satgas Antimafia Sepak Bola pada Jumat (28/12) pagi sekitar pukul 08.00 saat tengah berada di sebuah hotel berbintang di kawasan Jalan Adisutjipto Kota Jogja. Perihal penangkapan ini pun dibenarkan Berlandika Candra Pramdikta, putra kedua Mbah Putih.

“Pagi tadi saat itu saya juga baru bangun tidur. Tiba-tiba Papah (Mbah Putih-red) sudah di rumah bersama sejumlah orang  yang tidak saya kenal. Salah satu dari orang-orang tersebut memperkenalkan diri kalau mereka berasal dari Satgas Antimafia Sepak Bola,” tutur Dika, biasa disapa, saat ditemui di rumah keluarga besar Mbah Putih di kawasan Demangan, Kecamatan Gondukusuman, Kota Jogja.

Saat itu, Dika mendapatkan penjelasan dari personel Satgas tentang maksud kedatangan mereka. Di rumah tersebut, personel Satgas sempat masuk ke ruang kerja Mbah Putih dan mengamankan sejumlah berkas-berkas.  Dika mengatakan sebelum ayahanda dibawa pergi, dirinya sempat menandatangani sebuah surat yang diperkirakannya sebagai surat penangkapan meski dia mengaku belum secara detil membaca seluruh isi surat tersebut.

“Saat di rumah, Papa sempat diminta menunjukkan ruang kerjanya. Lalu ditemani Pak RT, mereka memeriksa berkas-berkas milik Papa dan membawa beberapa di antaranya. Kami tidak tahu dalam kapasitas apa Papa dibawa ke Jakarta karena di dalam surat tersebut juga tidak dijelaskan statusnya apa, apakah tersangka atau saksi. Lagipula Papa selama ini juga belum menerima surat pemanggilan. Tapi ada kemungkinan memang karena nama Beliau disebut-sebut dalam acara Mata Najwa terkait pengaturan skor,” paparnya.

Terkait langkah yang akan diambil pihak keluarga, Dika belum bisa memastikannya. Termasuk menunjuk kuasa hukum. “Kami masih akan melihat dahulu seperti apa posisi Papa. Sampai saat ini memang belum ada langkah apa-apa. Jujur kami kaget dengan kejadian ini,” kata dia.

Di tempat yang sama Sekretaris PSIM Yogyakarta, Jarot Sri Kastawa mengaku pihak klub prihatin atas penangkapan Mbah Putih. Mewakili klub yang berkompetisi di Liga 2, Jarot menyebut pihaknya berharap yang terbaik bagi Mbah Putih yang tercatat sebagai salah sau komisaris pada perusahaan pengelola PSIM.

"Berharap Pak Dwi bisa cerita apa yang diketahuinya secara tuntas. Apalagi itu sudah dikatakannya kalau dia mau kooperatif. Yang jelas kami prihatin karena Beliau sudah banyak membantu PSIM,” sambung Jarot.


(Gading Persada /CN26/SM Network)