• KANAL BERITA

Piala Dunia 2018

Diplomasi dan Perang Sepak Bola

Oleh Amir Machmud NS

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

PERTARUNGAN  pamungkas akan menutup peperangan sepanjang satu bulan di Rusia. Sekaranglah saat Prancis dan Kroasia dihadapkan pada pilihan: mukti, atau mati! Bagaimanakah kita menghayati, menjadi penyaksi, lalu membandingkan hakikat peperangan dan pertempuran dalam sepak bola?

Seluruh strategi yang dirancang oleh tim-tim dalam rangkaian sebuah turnamen selalu melukiskan, betapa mereka bagai memasuki medan perang. Lalu untuk menghadapi pertandingan demi pertandingan, tim-tim itu mencebur ke "pertempuran". Inilah pergerakan dialektik, dari ruang makro ke wilayah mikro. Begitu selalu perputarannya.

Laga semifinal antara Prancis vs Belgia dan Inggris vs Kroasia adalah pertempuran dalam wujud taktik head to head. Dan, itu menjadi bagian dari peperangan Piala Dunia sepanjang sebulan penuh. Visi makro strategis disiapkan untuk menghadapi peperangan, sementara taktik lebih teraksentuasi untuk pertempuran melawan tim-tim tertentu, dengan penyiapan sikap yang berbeda-beda.

Medan perang Rusia 2018 ini menyajikan produk kemenangan dan kekalahan yang tentu merupakan refleksi tim-tim dalam menyiapkan strategi dan taktik. Mengapa Belgia mampu melewati Brasil; mengapa pula Prancis menyisihkan Argentina, Uruguay, dan Belgia. Juga bagaimana Kroasia bergerak dari babak ke babak pertempurannya, artinya mereka memenangi sebagian dari peperangan besar. Akan tetapi, pemenang sejati baru dipastikan setelah duel pamungkas nanti melahirkan sang juara yang berhak mengangkat copa. Perang besar selesai melalui sebuah pertempuran pamungkas.

"Tancep Kayon"

Menjelang "tancep kayon" The Greatest Show on Earth ini, strategi peperangan makin memusat ke taktik pertempuran. Tidak ada pilihan lain, akan muncul atmosfer ofensif sebagai solusi yang menjawab bahwa ikhtiar-ikhtiar diplomasi telah menemui jalan buntu. Sebagaimana kata Carl van Clausewitz, perang adalah kelanjutan dari diplomasi. Hasil peperangan tidak bersifat absolut, tetapi menyisakan pandangan kesementaraan.

Diplomasi dalam sepak bola berwujud ekspresi elemen-elemen penikmatan bermain, untuk mengetengahkan kegembiraan secara lepas, tak tercencang oleh berbagai belenggu disiplin manajemen yang terorganisasi kaku. Spirit untuk mengompromikan antara keindahan bermain dengan target pemenangan misalnya, masuk dalam wilayah diplomasi sepak bola, perdebatan-perdebatan yang seperti tak pernah berhenti.

Kampanye Belgia dalam perang besar di Rusia ini agaknya memang mampu menghasilkan kemenangan dan simpati, tetapi bukan untuk sebuah pertempuran di semifinal. Celakanya, ketika sudah memasuki fase gugur, aturan main peperangan hanya punya alternatif vonis: menang, atau kalah.

Sama seperti Brasil yang di bawah kendali Tite memenangi diplomasi ideologi sepak bola indah, namun akhirnya gagal mewujudkan dalam taktik pertempuran melawan Belgia. Sedangkan kematangan Belgia membentur kemenangan taktik Prancis.

Kesempatan untuk berdiplomasi sudah tidak dimungkinkan lagi. Sekarang adalah saat: mukti, atau mati. Prancis, atau Kroasia yang merayakan kejayaan. Pertempuran tidak lagi menoleransi pewacanaan ideologi, kecuali hanya tentang siapa yang meraih kemenangan dan kebanggaan.

Sebagai produk yang tidak absolut, kesementaraan hasil peperangan dari Piala Dunia 2018 ini akan mendorong mereka yang berperang membangun kembali kekuatan keprajuritan dan infrastrukturnya. Mitos bahwa para juara bertahan sejak 2002 selalu tersisih di Piala Dunia berikutnya, menjadi salah satu bukti bahwa tidak ada kemenangan yang lalu bisa dipelihara secara mutlak. Sepak bola terus bergulir, hidup bergerak, dan nilai-nilai kompetisi mengikuti...

-Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka, Ketua PWI Jawa Tengah


(Red/CN26/SM Network)