Cegah Kerusakan Lingkungan, Alste 85 Tanam Mangrove

- Senin, 18 Maret 2019 | 18:36 WIB
 Karyawan BUMN Perum Perumnas dan Alste 85 beserta warga setempat menanam bibit mangrove di Pantai Mangunharjo Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Minggu (17/3). (suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)
Karyawan BUMN Perum Perumnas dan Alste 85 beserta warga setempat menanam bibit mangrove di Pantai Mangunharjo Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Minggu (17/3). (suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Alumni SMAN 3 Semarang angkatan 1985 (Alste 85) terus berupaya untuk melakukan pencegahan kerusakan lingkungan. Terutama kerusakan lingkungan pada pesisir pantai. Di pesisir Pantai Mangunharjo apabila terjadi gelombang air laut tinggi dan abrasi berdampak pada kerusakan lingkungan.

Sebagaimana dikatakan Ketua Harapan Tani Mangrove Pantai Mangunharjo, Feri Agung pada pekan lalu (10/3), Kerusakan lingkungan di Pantai Mangunharjo yaitu abrasi yang masih terus menjalar ke daratan. Sehingga tambak di Mangunharjo sampai menjorok ke persawahan dan sawah beralih fungsi menjadi tambak. Karena itu Alste 85 menanam bibit mangrove sebagai upaya penyelamatan lingkungan di Desa Mangunharjo Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Minggu (17/3).

Dalam penanaman bibit mangrove yang dilakukan Alste 85 bekerja sama dengan BUMN Perum Perumnas yang bergerak dalam program bantuan bina lingkungan penanaman mangrove. Selain itu, penanaman mangrove juga melibatkan alumni dari SMP 2 Semarang angkatan 1982, 1985, 1986, dan angkatan 1988. Mereka semua semua memiliki misi yang sama untuk menyelamatkan kerusakan lingkungan di Pantai Mangunharjo dengan semboyan Gerakan Menanam Bibit Mangrove.

Ketua Alste 85 Semarang, Fajar Ariadi mengatakan, penanaman bibit mangrove di Pantai Mangunharjo merupakan bentuk penyelamatan lingkungan dari abrasi dan gelombang pasang tinggi yang selama ini menimbulkan kerusakan pada lingkungan Mangunharjo.

Menurut Fajar, penanaman mangrove harus terus dilakukan di Pantai Mangunharjo, sebab proses dari bibit mangrove hingga menjadi pohon membutuhkan waktu sampai bertahun-tahun. Dikhawatirkan, jika sewaktu-waktu terjadi pasang ombak, bibit yang telah di tanam akan rusak dan tidak dapat tumbuh.

"Karena itu, penanaman bibit mangrove kami lakukan pada sebelah kanan jalan saat menuju pantai, sebab berdasarkan pantauan bibit mangrove yang ditanam sebelah kanan berhasil tumbuh. Sementara sebelah sisi kiri jalan sering terjadi ombak pasang dan bibit yang di tanam rusak terkena arus air," ujarnya.

Ada pun Alste 85 memiliki semboyan "Merawat Hulu Menjaga Hilir". Kata Fajar, semboyan tersebut bahwa apa yang ada di Hulu perlu dirawat jangan sampai rusak untuk kelestarian alam. Sedangkan yang di Hilir perlu dijaga agar tidak menjadi rusak karena abrasi dan erosi. Jika sampai kerusakan lingkungan terjadi maka ikan-ikan kecil dan satwa pada mati karena tidak dapat berkembangbiak.

GM Perum Perumas Regional V, Langgeng Sugiharjo mengatakan, penanaman mangrove sebagai  peluang bagi masyarakat untuk  lebih meningkatkan pemanfaatan lahan  dan menjaga kelestarian hutan mangrove dikawasan sekitar. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan mangrove yang dapat dijadikan mata pencaharian, misalnya buah mangrove dapat diolah menjadi kopi dan bahan pewarna batik alami.

"Keberadaan mangrove  perlu sekali diadakan dengan prinsip perlindungan, pembelajaran, serta pemanfaatan pada area hutan mangrove. Mangrove  menjadi salah satu tempat untuk berkembang biak hewan seperti burung, juga  berfungsi menjadi tempat pembibitan hewan, terutama ikan," ungkapnya.

Halaman:

Editor: Setiawan Hendra Kelana

Tags

Terkini

Sungai Jebol, Mangkang Wetan Dilanda Banjir

Senin, 17 Januari 2022 | 19:20 WIB
X