Belum Semua dari 30.000 Jenis Tanaman Herbal Termanfaatkan

- Selasa, 5 Maret 2019 | 23:36 WIB
Charles Ongkowijoyo Hadiningrat atau akrab dikenal Charles Saerang (dua dari kanan) seorang pakar jamu memberikan paparan kepada para hadirin. (suaramerdeka.com/Diaz A Abidin)
Charles Ongkowijoyo Hadiningrat atau akrab dikenal Charles Saerang (dua dari kanan) seorang pakar jamu memberikan paparan kepada para hadirin. (suaramerdeka.com/Diaz A Abidin)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Warga dan pemerintah Indonesia belum mampu memanfaatkan betul potensi tanaman herbal yang dimiliki. Padahal, negara agraris ini memiliki setidaknya 30.000 jenis tanaman herbal yang bisa dimanfaatkan untuk kesehatan.

Hal ini dikatakan Ketua Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPJI), Charles Saerang, dalam sebuah diskusi belum lama ini. Diskusi bertemakan "Life Style Tradisional di Era Millenial: Ok Kah ?", yang digelar Radio Idola di Hotel Ciputra, Semarang.

“Kita ini punya 30.000 jenis tanaman herbal. Belum termanfaatkan semuanya. Sayang sekali,” jelas generasi ketiga dari pendiri pabrik jamu Nyonya Meneer itu.

Banyak faktor yang memengaruhi tidak termanfaatkanya tanaman herbal itu. Salah satunya adalah budaya meminum jamu untuk minuman kesehatan orang jaman sekarang. Terutama anak muda.

Selanjutnya ia berharap pengusaha jamu agar menginovasi minuman kesehatan buatannya. Seperti yang dilakukannya dengan membuat minuman Temulawak Latte. Inovasi lain yang pernah dilakukan pengusaha lain ialah membuat es krim jamu. Sehingga cara meminum jamu berkembang.

“Padahal jamu ini produk budaya kita. Sebuah minuman untuk kesehatan. Mindsetnya, jamu itu kuno. Sebetulnya tidak, jadikan saja ini minuman keseharian seperti kopi,” jelasnya.

Ia memerinci, jamu yang dibuat dari tanaman herbal bukanlah sebuah obat untuk menyembuhkan penyakit. Namun sebagai minuman kesehatan yang bisa mencegah penyakit.

“Ini juga sering menjadi kendala bagi pengusaha jamu dengan mindset itu. Izinnya harus dari Kementerian Kesehatan, di mana jamu dikategorikan sebagai farmasi. Padahal bukan, ini minuman keseharian saja untuk menjaga agar tetap sehat,” katanya.

Namun bila izin pembuatan minuman kesehatan itu hanya dari Kementerian Perindustrian, maka akan mempermudah bagi para pengusaha jamu. Terlebih untuk melakukan ekspor, mengingat jamu juga sangat disukai warga asing.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

X