Penjaga Keluarga Kucing Liar

- Rabu, 11 Agustus 2021 | 20:33 WIB
Wiwin bersama kucing liar yang dianggap ''keluarga sendiri'' di Taman Srigunting, Kota Lama, Semarang, Rabu (11/8). (suaramerdeka.com/Aristya Kusuma Verdana)
Wiwin bersama kucing liar yang dianggap ''keluarga sendiri'' di Taman Srigunting, Kota Lama, Semarang, Rabu (11/8). (suaramerdeka.com/Aristya Kusuma Verdana)

SEMARANG, suaramerdeka.com - SORE di Kota Lama Semarang, Rabu (11/8), seorang wanita paruh baya tidur di kursi taman. Dia menyandarkan tubuhnya memanjang mengikuti panjang kursi. Earphone di telinganya dan mengenakan masker. 

Taman Srigunting tampak sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Dan itu pun diiringi oleh petugas yang aktif meminta pergi para pengunjung dari Kota Lama. Di taman itu pula, terdengar suara petugas dari pengeras suara yang mengumumkan bahwa Kota Lama sedang tertutup untuk tamu. Pengumuman itu diputar berulang. 

Wiwin atau Win Meong tidak seorang diri di kursi taman. Sekitar 9 ekor kucing berada di dekatnya. Ada pula yang tidur bersandar pada tubuh Wiwin. Tidak jauh dari kursi, ada dua wadah berbahan plastik. Satunya berisi makanan kucing, satunya air.

Baca Juga: Tim Voli Putra Indoor Perbanyak Simulasi Pertandingan, Pelatih Akui Belum Maksimal

Wiwin adalah  seorang tunawisma, yang sehari-hari tinggal dan tidur di Kota Lama, tepatnya di Taman Srigunting. Di sana dia dikenal sebagai ibu kucing. Belasan kucing liar yang berada di Little Netherland dirawatnya seperti anak sendiri.

''Sudah dari 2015 saya di sini merawat kucing,'' kata Wiwin, yang terbangun sesaat saya datang. 

Jika dikumpulkan, kata dia, mungkin ada 500 ekor kucing lebih yang sudah dirawatnya. Wiwin merawat kucing liar tersebut dari uang yang dia kumpulkan sendiri. ''Kadang ada pengunjung Kota Lama yang suka dengan kucing membelikan makanan untuk kucing. Karena melihat saya merawat. Tetapi, dua tahun pandemi berjalan pengunjung Kota Lama sepi,'' kesahnya. 

Selepas senja, Wiwin bekeliling area Kota Lama dengan membawa makanan kucing. Dia memberi makan kucing yang dilihatnya, yang berada di berbagai area Kota Lama. ''Kucing liar ini sama-sama ciptaan Tuhan. Kenapa tidak kita menyayanginya,'' ungkapnya. 

Wiwin merasa tidak kesepian. Kucing-kucing itu dianggapnya keluarga sendiri. Menemani di berbagai keadaan dengan tulus. Dia pun totalitas dalam merawat ''keluarganya''. Suatu kali, ketika makanan kucing menipis, dia menggadaikan gawai miliknya untuk membeli makanan kucing. ''Saya dari umur 14 tahun malang melintang, mencari nafkah sendiri.''

Nama lahirnya adalah Subaiah. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Sujoto dan Siti Muzainah ini kelahiran Semarang pada 1972. Pernikahannya yang dibangun mulai 1997 kandas, sebelum mempunyai anak.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Sungai Jebol, Mangkang Wetan Dilanda Banjir

Senin, 17 Januari 2022 | 19:20 WIB
X