Kuasai Teknik Verifikasi Daring, Jurnalis Bisa Terhindar Jebakan Hoaks

- Selasa, 10 Agustus 2021 | 21:18 WIB
CONTOH HOAKS: Trainer Google News Initiative, Hartatik memperlihatkan contoh konten hoaks yang memodifikasi judul dari pemberitaan salah satu media mainstream, saat Training Cek Fakta Vaksin Insight, akhir pekan Minggu 8 Agustus 2021. (suaramerdeka.com/Hartatik)
CONTOH HOAKS: Trainer Google News Initiative, Hartatik memperlihatkan contoh konten hoaks yang memodifikasi judul dari pemberitaan salah satu media mainstream, saat Training Cek Fakta Vaksin Insight, akhir pekan Minggu 8 Agustus 2021. (suaramerdeka.com/Hartatik)

 


SEMARANG, suaramerdeka.com - Dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir, sedikitnya 1.827 konten hoaks terkait Covid-19 bertebaran di media sosial. Meski sebagian besar konten hoaks itu telah dibongkar, namun tidak menghentikan konten hoaks baru terus bermunculan.

Menyikapi ini, jurnalis bisa membekali diri agar tidak terjebak pada konten hoaks dengan menguasai teknik verifikasi daring.

"Konten hoaks yang beredar selama pandemi Covid-19 ini luar biasa, tidak hanya secara kuantitas melainkan dampaknya, khususnya terkait kepercayaan publik terhadap vaksinasi," ujar Hartatik, trainer tersertifikasi Google, Minggu 8 Agustus 2021.

Hal itu disampaikan saat Training Cek Fakta Vaksin Insight yang digelar secara virtual, 6-8 Agustus 2021. Training yang diinisiasi AJI Indonesia dengan pengembangan modul dari First Draft ini diikuti belasan jurnalis dari Semarang dan Pekalongan.

Training tersebut menghadirkan dua trainer Google News Initiative yakni Hartatik (editor Suara Merdeka) dan Asnil Bambani (editor Kontan.id). Lebih lanjut, Hartatik mengungkapkan taktik yang seringkali dilakukan oleh para pembuat konten hoaks.

Baca Juga: Ini 5 Ketentuan Prokes PTM Terbatas di Wilayah PPKM Level 1-3

Salah satu contohnya adalah beredar screenshot video dengan narasi "Usai Disuntik Vaksin Sinovac, Ratusan Warga Terkapar" melalui Facebook pada 19 Januari 2021. Setelah diverifikasi, ternyata konten hoaks itu berasal dari screenshot tayangan CNN Indonesia tentang para siswa yang mual-mual dan pingsan, seusai mendapatkan vaksin difteri.

"Konten hoaks tentang vaksin seperti itu dibuat dengan teknik headline laundering atau mendaur ulang liputan berita negatif maupun berita ambigu, terutama judulnya yang mungkin tidak menceritakan keseluruhan isi berita," terangnya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X