Malam Satu Suro, Pengakuan Warga: Pak Harto Pernah 'Kungkum' di Kawasan Sungai Tugu Soeharto

- Senin, 9 Agustus 2021 | 17:33 WIB
Ritual Kungkum di Tugu Soeharo di Malam Satu Suro/Foto blog Unnes.ac.id
Ritual Kungkum di Tugu Soeharo di Malam Satu Suro/Foto blog Unnes.ac.id


SEMARANG, suaramerdeka.com - Kota Semarang, seperti halnya kota-kota lainnya, juga memiliki tradisi unik memperingati malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam atau dalam istilah Jawa dikenal malam satu Suro yakni Kungkum.

Kungkum dalam istilah Jawa yang berarti berendam ini dilakukan di kawasan sungai Tugu Soeharto, tepatnya di pertemuan arus sungai antara Kali Garang dan Kali Kreo. Sungai itu berada di Kelurahan Bendan Nduwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Semarang.

Kungkum ialah tradisi leluhur yang dipercaya akan mendatangkan keberkahan. Orang Jawa biasa menyebut tradisi malam 1 Suro dengan berbagai ritual yang biasa dijalankan para leluhurnya.

Baca Juga: 20 Ucapan Doa dan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 H Bertema Pandemi

Sebagian warga lain meyakini bahwa dengan mandi di kawasan Tugu Soeharto pada malam satu Suro akan menghilangkan kesialan serta penyakit. Maka tak ayal tiap malam satu Suro ratusan warga tumpah ruah di sepanjang aliran sungai kawasan Tugu Soeharto.

Ritual sakral Kungkum disebut sebagai wujud berserah diri kepada Tuhan agar selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan diberikan rezeki lancar.

Tak hanya warga Semarang saja, kegiatan kungkum ini juga diramaikan warga luar kota seperti Ungaran, Solo, Demak, Kendal, dan Brebes hingga provinsi lain.

Kepercayaan berkah Tugu Soeharto karena tempat itulah konon zaman dahulu menjadi tempat bertapa Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Malam Satu Suro, Pengakuan Warga: Pak Harto Pernah 'Kungkum' di Kawasan Sungai Tugu Soeharto Pemberian nama Tugu Soeharto konon bermula saat Pak Harto yang berpangkat mayor itu bertugas di Semarang dalam perang melawan Belanda.

Baca Juga: Polda Jateng Bantu Biaya Pendidikan Anak Yatim Piatu Korban Covid-19

"Pak Harto, dulunya pernah bersemedi di sini. Makanya, semua orang setiap malam satu Suro berduyun-duyun datang ke sini untuk njamasi keris dan golok sebagai pusaka orang Jawa," kata salah seorang warga.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Parkir Tepi Jalan Akan Diberlakukan Elektronik

Selasa, 25 Januari 2022 | 21:44 WIB

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB
X