80 Persen Kopi Robusta PTPN IX untuk Kebutuhan Ekspor

- Minggu, 29 Juli 2018 | 21:30 WIB
Buruh borong PTPX IX mulai memetik kopi yang masak pohon di Kebun Getas Afdeling Asinan-Kempul, Bawen, Kabupaten Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)
Buruh borong PTPX IX mulai memetik kopi yang masak pohon di Kebun Getas Afdeling Asinan-Kempul, Bawen, Kabupaten Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kopi robusta yang dihasilkan PTPN IX dari Kebun Getas Afdeling Asinan-Kempul, Bawen, Kabupaten Semarang mayoritas atau sekitar 80 persen untuk kebutuhan ekspor. General Manager Kampoeng Kopi Banaran, Widya Banu Aji menyebutkan, pasar ekspor yang dimaksud banyak dikirim ke Italia.

“Sisanya untuk produk hilir PTPN IX. Program kami, bisa mengurangi ekspor untuk memenuhi pasar lokal yang cenderung meningkat,” katanya, kemarin.

Musim panen tahun ini, Banu memperkirakan, dari kebun seluas lebih dari 400 hektare tadi pihaknya bisa memanen lebih kurang 1.300 ton kopi robusta basah atau setara 300 ton kopi robusta kering berkualitas. Guna mendukung percepatan petik kopi merah atau kopi yang masak pohon, PTPN IX biasa mengerahkan tenaga borong yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

Berbeda ketika memasuki Mei hingga September, tenaga kerja yang ada lebih difokuskan untuk memantau serta merawat tanaman agar hasil panennya maksimal. “Tenaga borong biasa dilibatkan ketika panen raya, setiap Juli dan Agustus. Mereka berasal dari sekitar perkebunan Bawen, bahkan ada juga warga Boyolali, dan Temanggung. Kemampuan petiknya, setiap hari satu orang rata-rata 80 kilogram kopi basah,” terangnya.

Kopi masak pohon yang diambil manual oleh tenaga borong, selanjutnya dibawa ke Pabrik Pengolahan Biji Kopi Banaran di Gemawang, Jambu, Kabupaten Semarang. Di lokasi tersebut, seluruh biji kopi dicuci bersih sebelum disortir sesuai grade. Ada pun waktu pengolahan, dijadwalkan berlangsung hingga Februari 2019 mendatang.

Khusus untuk tahun ini, PTPN IX berencana hendak mengembangkan inovasi atau redesign kemasan hasil produksi. Nantinya, akan diciptakan merek varian baru menyesuaikan asal petik kopi. Misalnya, kopi yang dipetik dari Kebun Banaran, Kebun Jolong, atau Kebun Sekendil Ngobo. “Untuk menghasilkan kopi yang berkualitas, tentunya perlu melewati tahapan pengolahan,” imbuh Banu.

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Pemkab Grobogan Bakal Perketat Pengawasan Orang Asing

Jumat, 24 September 2021 | 20:29 WIB
X