Angka Partisipasi Pemilih Dibawah Target

- Jumat, 29 Juni 2018 | 21:00 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng, hingga Jumat (29/6) pukul 18.00, dengan persentase jumlah penghitungan secara real count yang mencapai 99,23 persen, partisipasi pemilih pada ajang Pilgub tercatat 68,06 persen atau sebanyak 18.287.162. Sementara jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 26.746.463.

Jumlah ini dibawah dari target KPU sebesar 77,5%. Meski naik dari Pilgub 2013 yang tercatat 55,7%, namun tingkat partisipasi yang dibawah target ini perlu menjadi bahan evaluasi penyelenggara pemilu.

Sementara untuk perolehan suara yang masuk dari  63973 Tempat Pemungutan Suara (TPS), pasangan calon Ganjar Pranowo- Taj Yasin memperoleh 10.284.956 suara (58,80%), Sudirman Said-Ida Fauziah 7.207.536 suara (41,20%).

Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) Cahyo Seftyono berpendapat bila melihat angka yang tidak mencapai target tersebut, justru perlu dipertanyakan kepada kedua pasangan calon.

''Mengapa mereka tidak mampu menarik hati publik untuk berpartisipasi? Hal ini perlu dicari jalan keluarnya. Jangan sampai partisipasi yang tidak sesuai target ini, nantinya juga berimbas pada partisipasi publik yang rendah dalam pembangunan,'' jelasnya, Jumat (29/6).

Menurutnya jika rendahnya partisipasi yang kemudian membuat masyarakat acuh tak acuh bisa membuat berbahaya tidak saja dalam konteks legitimasi, melainkan juga bagaimana nantinya publik tidak mampu memberi masukan positif bagi pemerintah terpilih.

''Partisipasi politik warga dalam pilkada memang agak rumit di Indonesia. Berbeda dengan negara lain seperti Australia yang memang mewajibkan warganya untuk mencoblos dalam pemilu/pemilu lokal. Di Indonesia, warga tidak wajib untuk mencoblos,'' tambahnya.

Ia melihat  angka partisipasi 68 persen ini  ini menunjukkan dua hal penting. Pertama KPU perlu mendorong lebih kuat kepada publik soal pentingnya memilih pemimpin. Kedua, persoalan legitimasi dan ketertarikan atas ide pembangunan oleh kedua paslon.

''Saya sendiri lebih tertarik untuk menyoroti yang kedua karena ini bersifat politik strategik. Berbeda dengan yang pertama yang lebih banyak berkenaan dengan proses administratif. Yang mana memang tugas KPU mensosialisasikan peserta dan menjalankan pilkada, bukan mempengaruhi mereka.'' 

Mengenai proses Pilkada yang sudah berlangsung, ia menyatayakan ada beberapa persoalan yang sebenarnya menghinggapi pilkada langsung tersebut. Mulai dari akun-akun anonim, kampanye negatif dan hitam, hingga kurangnya evaluasi kinerja pertahana oleh lawan. 

''Pada kondisi yang demikian, sebenarnya kita dihadapkan pada pertanyaan, apa benar pilkada ini penting untuk publik?" Saya pribadi dengan mengamati media sosial dan perbincangan di sesama akademisi dan kolega yang umum cukup pesimistis ada partisipasi riil dari publik atas pelaksanaan pilkada. Termasuk apa yang tersaji di Jawa Tengah,'' paparnya. 

Menurutnya keberadaan akun bodong yang ikut menyebarkan berita fitnah, dan juga penyebaran info yang tidak valid menyebabkan masyarakat tidak fokus pada kinerja untuk kebijakan, melainkan disibukkan pada isu-isu yang tidak jelas. 

''Pilkada Jateng saya kira sudah berjalan baik, itu patut diapresiasi. Kegaduhan yang sempat terjadi di beberapa pilkada lain, tidak muncul di Jawa Tengah. KPUD, Bawaslu dan aparat yang mengamankan pilkada langsung memang sudah bekerja baik. Tapi memang kita kurang bisa mengeksplore inovasi kebijakan apa yang akan ditawarkan kedua calon,'' tuturnya.

Pengamat politik Undip Yuwanto PhD tak memungkiri, semarak kampanye Pilgub kali ini tidak lebih ramai dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Hal ini dianggap salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam memilih.

Dia mengamati, pada kontestasi Pilkada, masyarakat cenderung melihat calon kepala daerah berdasarkan popularitas. Popularitas calon masih diyakini mampu mendongkrak perolehan suara dari pada program yang ditawarkan.

"Ini sebagai realitas politik yang tidak bisa dihindari. Ada kecenderungan juga, tiap calon membidik suara di daerah basis pendukung lawan," kata Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP Undip itu.

Menurutnya, ada kesamaan pola kampanye yang dilakukan masing-masing pasangan calon selama masa tahapan kampanye.

"Yang membedakan adalah segmen pemilih yang dituju," imbuhnya.

Ketua KPU Jateng Joko Purnomo menyatakan, pihaknya telah terus berupaya meningkatkan jumlah partisipasi pemilih pada penyelenggaraan Pilgub Jateng 2018 ini.

"Sampai H-1 pemungutan suara Pilgub Jateng kami masih melakukan sosialisasi ke masyarakat secara masif di semua daerah agar jumlah pemilih bisa meningkat partisipasinya. Meski demikian ini menjadi bahan evaluasi kami jika melihat tingkat partisipasi yang belum sesuai target," kata dia.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan

Tags

Terkini

RSUD Kota Salatiga Zero Pasien Covid-19

Senin, 18 Oktober 2021 | 22:12 WIB

Muslimat dan Fatayat Dilatih Pemulasaraan Jenazah

Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:25 WIB
X