Menyadarkan Eks Napi Teroris Tidak Mudah, Perlu Kesabaran dan Dukungan

- Kamis, 22 September 2022 | 08:48 WIB
Peserta menandatangani deklarasi cegah terorisme saat Rakor Gerakan Nasional Revolusi Mental Provinsi Jateng, di Hotel Le Bringin Salatiga. (suaramerdeka.com / Surya Yuli P)
Peserta menandatangani deklarasi cegah terorisme saat Rakor Gerakan Nasional Revolusi Mental Provinsi Jateng, di Hotel Le Bringin Salatiga. (suaramerdeka.com / Surya Yuli P)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Mantan Narapidana Terorisme atau napiter, Machmudi Hariono alias Yosef Aderima alias Yusuf, mengaku tidak mudah menyadarkan para eks napiter lainnya, agar meninggalkan pemahaman ideologi yang salah dan kembali ke NKRI.

Bahkan dirinya mengalami hujatan dari eks napiter lainnya, termasuk mendapat intimidasi fisik berupa pemukulan saat berkunjung ke penjara.

Kesabaran dan berpikir positif, serta tetap memberikan pelayanan kepada keluarga eks napiter, menjadi modal bagi Yusuf dalam perjalanan menyadarkan rekannya yang memiliki pemahaman radikalisme.

Baca Juga: Jelang Laga Persib Vs Persija, The Jakmania Masih Berpikir Matang untuk Away ke GBLA

Hal itu diungkapkan Machmud Hariono atau Yusuf, saat menjadi pembicara Rakor Gerakan Nasional Revolusi Mental Provinsi Jateng bertema ''Sinergitas Pentahelix dalam Kontra Radikalisme dan Deradikalisasi''

Kegiatan diadakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbanpol) Jateng, di Hotel Le Bringin Salatiga, Selasa 20 September 2022.

Pembicara lainnya, Dosen UIN Salatiga Dr Munajat dan Pemred Harian Suara Merdeka, Gunawan Permadi. Rakor dibuka Kabid Ideologi dan Kewaspadaan Badan Kesbangpol Jateng, Agung Prakosa SH MH, dilanjutkan pembacaan ikrar dan penandatanganan Deklarasi Mencegah Terorisme di Jateng.

Baca Juga: Bongkar Trawangan Sabdo Primbon Jawa untuk Keistimewaan Weton Kamis Legi dari Berbagai Aspek

"Saya tetap bersabar mengajak eks napiter agar kembali ke NKRI. Saya kerap dibenci dan dianggap penghianat, namun terus bersabar. Meskipun ada yang benci terhadap saya, tetapi saya tetap bantu keluarga mereka, seperti mengantar istri mereka menjenguk di penjara. Saya berharap dengan sikap saya itu, siapa tahu mereka sadar dengan sendirinya," ungkap Yusuf, mantan napiter yang kini menjadi aktivis Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) Jawa Tengah.

Yusuf mengungkapkan pengalamannya saat SMA dan tergoda bergabung dengan kelompok jaringan terorisme.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

225 Kaum Muda Perempuan Salatiga Dibekali Wirausaha

Senin, 28 November 2022 | 05:20 WIB

DPR RI Gunakan Pelat Nomor Khusus, Kayak Apa Sih?

Senin, 21 November 2022 | 20:44 WIB

PMI Salatiga Bantu Korban Rumah Ambruk

Sabtu, 19 November 2022 | 08:24 WIB
X