DP2K Dorong Peninjauan Lagi Terkait Tata Ruang Pelabuhan Tanjung Emas

- Jumat, 3 Juni 2022 | 13:12 WIB
Tim Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang saat meninjau lokasi pagar jebol di Kawasan Lamicitra, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)
Tim Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang saat meninjau lokasi pagar jebol di Kawasan Lamicitra, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.comm - Anggota Tim Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang Prof Dr Ir Sutrisno Anggoro melihat dinding yang menjadi perisai industri di Tanjung Emas tersebut bukan tanggul, tapi lebih mirip dinding atau pagar.

Dari sudut tata ruang, kata Prof Sutrisno mestinya tidak boleh, karena tidak memenuhi syarat keamanan.

Selain itu, keadaan diperparah dengan hantaman arus bawah laut yang terus menggerus pondasi bangunan, sehingga menyebabkan landasan terus menurun.

"Harusnya dalam penataan ruang yang berdekatan dengan pantai harus diberi ruang jarak 100 meter," katanya.

Baca Juga: Sosok Siluman Cantik Penggoda Pria, Ini Asal Usul Badarawuhi di Kisah Nyata

Selanjutnya, ruang jarak 100 meter antara garis pantai dengan bangunan harus dijadikan kawasan lindung.

Barulah kemudian ada industri atau bangunan lainnya.

Prof Sutrisno pun mendorong untuk dilakukannya peninjauan lagi terkait dengan tata ruang, mumpung saat ini ada revisi terkat tata ruang yang mengintegrasikan tata ruang matra laut dan matra darat.

"Gerusan tidak dari arus atas, tapi justru dari bawah. Kalau turun berarti bangunan goyah. Kami mencoba mengecek tempat yang ambrol ketebalan dindingnya hanya 14,7 sentimeter dan 15 sentimeter. Kemudian pondasinya 30 sentimeter di bawah. Itupun tidak memadai," katanya.

Baca Juga: Update Pencarian Eril: Otoritas Gunakan Metode Pencarian Jenazah, Keluarga Mengikhlaskan Almarhum

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X