Angka Kematian Ibu dan Bayi di Jateng Tinggi, Butuh Perhatian Serius dari Pemda

- Jumat, 25 Maret 2022 | 11:28 WIB
Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko (suaramerdeka.com/dok)
Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko (suaramerdeka.com/dok)

 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Tengah ternyata masih sangat tinggi.

Data triwulan III tahun 2021, telah terlaporkan kematian ibu mencapai 867 kasus. Sebelumnya, ada 530 kasus kematian ibu melahirkan pada 2020.

Keterbatasan layanan kesehatan dan gizi bagi ibu hamil selama pandemi, potensi keterpaparan virus, dan komplikasi kehamilan (perdarahan, hipertensi kehamilan, jantung, diabetes) menjadi faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi naiknya angka kematian ibu.

"Sementara Angka Kematian Bayi di Jawa Tengah juga masih tinggi. Pada 2021, hingga triwulan III telah tercatat sebanyak 2.851 kasus. Faktor penyebab kematian bayi antara lain kurangnya asupan gizi bayi selama dalam kandungan yang menyebabkan berat badan lahir rendah, kelainan konginetal pada bayi dan komplikasi kehamilan, serta keterbatasan layanan kesehatan ibu dan anak pada masa pandemi Covid-19," kata Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, Jumat 25 Maret 2022.

Baca Juga: Pertandingan Basket Bima Perkasa Jogja Vs Bumi Borneo Pontianak IBL Diwarnai Aksi Dugaan Isu Rasisme

Persoalan ini menurutnya butuh perhatian serius dari pemerintah daerah. Apalagi selama pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang takut mengakses pelayanan kesehatan.

Daerah-daerah yang menurutnya banyak terjadi kasus kematian ibu dan bayi yaitu daerah yang masuk dalam data daerah dengan angka kemiskinan tinggi.

"Setiap daerah punya karakteristik yang berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi angka kematian ibu dan anak. Terutama penanganan pra dan pasca ibu melahirkan saat berada di klinik bersalin, puskesmas, dan rumah sakit," tambah politisi Partai Gerindra ini.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X