BRT Merugi Selama Pandemi, Pengamat: Mestinya Target Pendapatan Tak Hanya dari Penumpang

- Kamis, 9 Desember 2021 | 11:24 WIB
BRT Trans Semarang tengah berhenti di halte. (foto: transsemarangkota.go.id)
BRT Trans Semarang tengah berhenti di halte. (foto: transsemarangkota.go.id)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pengelola bus rapid trans (BRT) Semarang mengalami kerugian mencapai Rp 21 miliar, lantaran tingkat okupasi penumpang menurun 60 persen selama pandemi Covid-19.

Dishub mengakui selama tahun 2020 hingga 2021 menjadi momen terberat bagi transportasi BRT di Semarang.

Sebab dua tahun ini pihaknya tidak bisa memenuhi target tahunan yang ditetapkan Pemkot Semarang.

Menanggapi hal itu pengamat transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan dalam mengelola transportasi umum seperti bus Trans Semarang semestinya target pendapatan tidak hanya dari penumpang saja.

Baca Juga: Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember, Berikut Lima Fakta Tentang Korupsi

"Bisa mencari pendapatan tambahan dr non penumpang, seperti iklan di halte bus, armada bus atau bisnis lainnya," katanya di Semarang, Kamis, 9 Desember 2021.

Lebih lanjut, Djoko mengatakan orientasi penyelenggaraan Bus Trans Semarang seharusnya bukan mencari keuntungan finansial saja, tapi lebih kepada dampak ekonomi dan lingkungan yang akan didapat nantinya.

Djoko menuturkan di seluruh dunia, semua operasional angkutan umum perkotaan mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Baca Juga: Sinopsis Ikatan Cinta 9 Desember 2021, Aldebaran Jujur ke Papa Surya dan Mama Sara soal Andin

Djoko menegaskan dalam mengelola bus Trans Semarang bukan beban tapi kewajiban agar dapat mengurangi kemacetan lalu lintas, menurunkan polusi udara, budaya antri.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB

Omicron Masuk Jawa Tengah

Sabtu, 22 Januari 2022 | 01:18 WIB
X