Tuntutan Terhadap Pelaku KDRT Rendah, JPPA Jateng Demo PN Demak

- Senin, 6 Desember 2021 | 19:05 WIB
Koordinator lapangan aksi demontrasi Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah, Sony berorasi saat menggelar demo di halaman PN Demak. (suaramerdeka.com/dok)
Koordinator lapangan aksi demontrasi Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah, Sony berorasi saat menggelar demo di halaman PN Demak. (suaramerdeka.com/dok)

DEMAK, suaramerdeka.com - Puluhan aktivis yang tergabung dalam Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi di Pengadilan Negeri Demak, kemarin.

JPPA terdiri atas LRC-KJHAM, Yayasan SPEK-HAM, LBH Apik Semarang, Yayasan Setara, LBH Semarang, PPT Provinsi Jawa Tengah, PPT Seruni Kota Semarang, PKBI Jawa Tengah.

Sahabat Perempuan Magelang, UPIPA Wonosobo, PBH Jakerham, PBHI Jawa Tengah, Sammi Institut, SG Sekartaji, LPP Sekar Jepara, Talitakum Surakarta, dan Klinik Hukum Ultra Petita.

Baca Juga: Bangun Kesadaran Masyarakat di Daerah Rawan Bencana, Cegah Korban Jiwa

Masa aksi yang datang pukul 09.10 itu menyatakan prihatin melihat perkembangan sidang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan terdakwa Slamet Haryanto, mantan anggota Komisi Informasi Provinsi Jateng yang dituntut empat bulan kurungan. Tuntutan tersebut dinilai terlalu ringan.

"Tuntutan jaksa yang hanya empat bulan sangat melukai rasa keadilan perempuan korban KDRT, apalagi terdakwa saat melakukan tindak kekerasan masih aktif sebagai pejabat publik yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat," ujar Nia Lishayati, koordinator tim advokasi korban berinisial H, saat orasi di depan kantor PN Demak.

Tuntutan 4 bulan tersebut, lanjut dia, tidak sebanding dengan dampak yang diderita korban.

Korban menanggung luka pada hidung yang tidak mungkin untuk kembali normal, dan terpaksa harus melakukan pengobatan rutin karena tulang pada hidung mengalami pembengkokan.

Baca Juga: Ini 5 Rekomendasi Masakan Berkuah yang Bisa Menemani di Musim Penghujan

"Hingga saat ini korban masih sering merasakan pusing, belum lagi derita psikis yang memerlakan pemulihan dari psikolog," bebernya.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Perempuan Nelayan Jadi Tumpuan

Jumat, 31 Desember 2021 | 15:32 WIB

Bayar PBB-P2 Tepat Waktu, Warga Gajah Dapat Mobil

Kamis, 23 Desember 2021 | 21:09 WIB

Kerukunan Beragama Jadi Alat Pemersatu Bangsa

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:24 WIB
X