Perjuangan Perempuan Nelayan di Demak Menggapai Kesetaraan

- Selasa, 30 November 2021 | 12:55 WIB

DEMAK, suaramerdeka.com - Deru mesin perahu kayu membelah kesunyian pagi di Dukuh Tambakpolo, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sekitar pukul 07.00, awal November lalu. Sebuah perahu melaju di antara pepohonan yang memeluk sungai. Setelah perahu berlalu, sungai yang terhubung ke Laut Jawa itu kembali hening.

Waktu terus bergerak. Suara deru perahu semakin sering terdengar tak berjarak, menandai denyut kehidupan di Dukuh Tambakpolo mulai berdetak. Dari kejauhan, satu per satu perahu memasuki Sungai Tambakpolo membawa pulang para nelayan seusai melaut.

Beberapa perahu berpenumpang sepasang nelayan laki-laki. Ada kalanya, perahu yang melintas membawa sepasang suami istri. Di tepian sungai di belakang rumah paling ujung di RT 05/ RW 07 Dukuh Tambakpolo, sebuah perahu berhenti.

Kustiah (45) dan suaminya, Solikin (47), keluar dari perahu sambil menenteng dua ember berisi hasil tangkapan, rajungan dan seekor ikan kedukan. Pintu belakang rumah itu terbuka, seorang anak laki-laki dari balik pintu tersenyum gembira menyambut kedatangan kedua orang tuanya.

Kustiah sudah melaut bersama suaminya selama 13 tahun. Keduanya menjadikan laut sebagai sumber kehidupan. Hasil penjualan ikan, digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah ketiga anaknya.

Di sela-sela aktivitasnya mencuci ikan hasil tangkapan, Kustiah menceritakan pengalamannya selama belasan tahun melaut. “Pertama kali melaut, anak saya masih TK. Sekarang sudah duduk di bangku SMA. Dulu, saya sering dihina tetangga. Mereka bilang, wong wedok kok miyang (perempuan kok melaut),” kata Kustiah sembari beranjak ke dapur menyimpan ikan yang akan dijual ke pengepul.

Hinaan tidak hanya diterima Kustiah, tetapi juga suaminya karena mengajaknya melaut bersama. Solikin mengatakan, ia melaut bersama Kustiah karena kesulitan mendapatkan anak buah kapal (ABK). “Karena nggak ada jurag (ABK), saya mengajak istri. Dulu sering dihina, ‘perempuan kok melaut’. Saya hanya diam. Tapi akhirnya, istri-istri di sini banyak yang ikut melaut,” kenang Solikin.

Solikin kembali ke perahu untuk mengambil jaring. Sementara Kustiah beralih ke pekerjaan rumah tangga. Ia mencuci peralatan bekas memasak, mencuci pakaian lalu membersihkan rumah. Setelah semua beres, ia mandi. Dengan wajah yang segar usai mandi, Kustiah membawa hasil tangkapannya ke pengepul ikan, tak jauh dari rumahnya.

Kustiah pulang dengan senyum merekah. Meskipun hasil tangkapannya tidak begitu banyak, namun hasil tangkapannya hari itu laku terjual dengan harga tinggi. Satu kilogram rajungan dihargai Rp 125.000. Sebelumnya, satu kilogram rajungan hanya Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Beberapa lembar uang Rp 100.000 disimpannya, sementara sisanya dibelanjakan untuk kebutuhan keluarganya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pansus B DPRD Demak Mulai Bahas Raperda tentang BUMDes

Selasa, 29 November 2022 | 21:33 WIB

DPRD Demak Bentuk Pansus untuk Selesaikan Lima Raperda

Senin, 28 November 2022 | 21:57 WIB

DPRD dan Bupati Demak Sepakati Raperda APBD 2023

Jumat, 25 November 2022 | 20:40 WIB

Bupati Demak Launching E-Tekad Bank Jateng

Kamis, 24 November 2022 | 18:35 WIB

Bupati Demak Resmikan Pusat Layanan Kesehatan Hewan

Rabu, 23 November 2022 | 07:00 WIB

BPN Serahkan 185 Sertifikat HM Tanah Aset Pemkab Demak

Selasa, 22 November 2022 | 15:45 WIB

Bupati Demak Sambut Kirab Obor Pospenas IX di Girikusumo

Selasa, 22 November 2022 | 10:36 WIB

Demak Mempersiapkan Diri Menuju Kabupaten Sehat

Selasa, 22 November 2022 | 09:36 WIB
X