Hama Tikus Menyerang 40 Hektare Sawah, TNI dan Petani Gencarkan Gropyokan

- Senin, 15 November 2021 | 19:34 WIB
Babinsa Kodim 0714/Salatiga mengejar tikus yang keluar dari sarang setelah difumigasi dengan asap belerang di areal pertanian padi Desa Bejaten, Pabelan, Kabupaten Semarang, Senin (15/11). (SM/Ranin Agung)
Babinsa Kodim 0714/Salatiga mengejar tikus yang keluar dari sarang setelah difumigasi dengan asap belerang di areal pertanian padi Desa Bejaten, Pabelan, Kabupaten Semarang, Senin (15/11). (SM/Ranin Agung)

PABELAN, suaramerdeka.com - Petani di Desa Bejaten, Pabelan, Kabupaten Semarang bersama prajurit Kodim 0714/Salatiga kembali menggencarkan gropyokan tikus.

Upaya pengendalian hama pengganggu tanaman tersebut dilakukan karena dinilai sudah merusak sawah milik petani seluas lebih kurang 40 hektar.

Baca Juga: Belum Punya Anak Keturunan? Simak Ini 7 Makanan Penyubur Kandungan

“Ini gerakan massal dalam rangka mengamankan pangan. Sekaligus mengantisipasi ledakan tikus, yang kita ketahui di beberapa tempat mulai ada potensi peningkatan,” kata Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kemeterian Pertanian, Dr Ir Takdir Mulyadi MM, disela memantau Gerakan Pengendalian Hama Tikus di Desa Bejaten, Pabelan, Kabupaten Semarang, Senin (15/11).

Kerjasama melibatkan masyarakat petani dan TNI, menurutnya menjadi hal yang baik untuk dilaksanakan setiap saat ketika petani membutuhkan bantuan dalam rangka mengendalikan hama khususnya tikus.

Disamping itu, pihaknya telah menyiapkan lahan dan merapikan saluran air untuk mengantisipasi banjir imbas curah hujan yang tinggi.

Baca Juga: Setiap Episodenya jadi Trending di Twitter, Ini 3 Alasan Harus Nonton Drama Korea Happiness

“Saat ini kita memasuki musim tanam Oktober-Maret. Sebelum musim tanam, perlu dilakukan pengendalian untuk tanaman padi diantaranya pengendalian hama tikus. Data yang ada menyebutkan, 2021 serangan tikus cukup banyak meski tidak sebanyak tahun sebelumnya,” ungkap dia.

Disamping pengamanan lahan pertanian dari serangan hama, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan telah mendapatkan data dari BMKG bahwa bertepatan dengan musim tanam Oktober-Maret ini akan terjadi la nina rendah sampai moderat. Dengan demikian, perlu diantisipasi dampak perubahan iklim khususnya banjir.

Baca Juga: Perankan Perancang Busana di Now We Are Breaking Up, Inilah Profil Song Hye Kyo

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nelayan Rawapening Dilindungi Asuransi

Kamis, 9 Desember 2021 | 17:26 WIB

Penggerak Kemandirian Ekonomi Perempuan Nelayan

Rabu, 8 Desember 2021 | 15:37 WIB

Nelayan Rawapening Dilindungi Asuransi

Selasa, 30 November 2021 | 21:46 WIB
X