Banyak Guru Honorer yang Pembayarannya Terganggu

- Jumat, 5 November 2021 | 02:54 WIB
Sekretaris Daerah Kota Semarang Iswar Aminuddin (tengah) foto bersama dengan pengurus Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Semarang usai Rapat Kerja di Loka Kridha Gedung Moch Ihsan Balai Kota Jalan Pemuda Semarang, kemarin. (SM/Agus Fathuddin)
Sekretaris Daerah Kota Semarang Iswar Aminuddin (tengah) foto bersama dengan pengurus Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Semarang usai Rapat Kerja di Loka Kridha Gedung Moch Ihsan Balai Kota Jalan Pemuda Semarang, kemarin. (SM/Agus Fathuddin)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sekretaris Daerah Kota Semarang Iswar Aminuddin mengatakan selama pandemi Covid-19 banyak guru honorer yang pembayarannya terganggu akibat sekolah daring.

‘’ Pemkot menyadari tugas dan tantangan menjadi guru di era teknologi informasi saat ini sangatlah berat, terlebih di era pandemi.

Data UNICEF, pada masa Covid-19 jumlah anak di seluruh dunia yang terdampak penutupan sekolah mencapai hampir 1,5 miliar,’’ kata Sekda mewakili Wali Kota Semarang saat membuka Rapat Kerja (Raker) Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Semarang, kemarin.

Baca Juga: Mengenang Vanessa Angel: Awali Karir di Dunia Entertain Berkat Dorongan Sang Ayah

Ketua GOPTKI Kota Semarang Ir Lies Iswar Aminuddin MSi melaporkan, Raker berlangsung selama satu hari di ruang Loka Kridha Gedung Moch Ihsan Balai Kota Jalan Pemuda Semarang.

Diikuti 93 guru TK dan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK), tim penggerak ranting dan mitra kerja se-Kota Semarang.

‘’Raker dengan tema optimalisasi peran GOPTKI dalam mendidik anak usia dini pada era digitalisasi, bertujuan meningkatkan peran serta guru TK dalam menyatukan kesamaan visi misi tujuan organisasi,” kata Lies.

Raker juga dihadiri 150 guru TK, perwakilan dari 3.549 guru TK-PAUD se-Kota Semarang.
 
Menurut Sekda Iswar Aminuddin, problem guru TK/PAUD sebanyak 78% guru kesejahteraannya masih kurang dan perlu memperoleh perhatian.

Problem lainnya yaitu keterbatasan sarana digitalisasi untuk mengajar saat pandemi.

‘’Menjadi seorang Guru merupakan ibadah yang mulia, haruslah ikhlas dan tanpa pamrih. Namun Pemkot Semarang terus berupaya memberikan apresiasi dan penghargaan bagi para guru yang telah mendidik generasi muda Semarang,’’ katanya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Parkir Tepi Jalan Akan Diberlakukan Elektronik

Selasa, 25 Januari 2022 | 21:44 WIB

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB
X