Gus Im: Memilih Pemimpin Bukan Hanya Urusan Dunia Saja tapi juga Kehidupan Akhirat, Apa Saja Syaratnya?

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 10:32 WIB
Ketua Umum Perkumpulan Pondok Pesantren Al-Bismi Jawa Tengah, Imam Prayogi dalam peringatan Hari Santri  di Magelang, Kamis 21 Oktober 2021. (suaramerdeka.com/dok)
Ketua Umum Perkumpulan Pondok Pesantren Al-Bismi Jawa Tengah, Imam Prayogi dalam peringatan Hari Santri di Magelang, Kamis 21 Oktober 2021. (suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pemimpin adalah panutan bagi pribadi pemimpin tersebut, dan juga bagi masyarakat umum.

Tindak tanduk atau adab seorang pemimpin dianggap penting dalam memilih pemimpin seperti bupati, gubernur bahkan presiden.

Ketua Umum Perkumpulan Pondok Pesantren Al-Bismi Jawa Tengah, Imam Prayogi mengatakan memilih pemimpin bukan hanya urusan dunia saja melainkan juga kehidupan akirat dari sudut pandang agama.

Menurut Gus Im panggilan Imam Prayogo, Islam tidak menganut dikotomi atau sekulerisasi, yang memisahkan antara dunia dan akirat.

Baca Juga: Komunitas Diajeng Semarang dan Suara Merdeka Gagas Gowes Berkebaya

Gus Im menjelaskan, syarat pertama adalah mukmin dan muslim yang baik memiliki dua sifat. Yaitu “hafizhun ‘alim”.

“Hafizhun artinya orang yang pandai menjaga, yakni, orang berintegritas, berkepribadian kuat, amanah, jujur dan berakhlak mulia hingga patut jadi teladan bagi orang lain atau rakyat yang dipimpinnya.

Adapun “Alim”, artinya orang berkemampuan, dan berpengetahuan memadai guna memimpin rakyat dan membawa hidup sejahtera," kata Gus Im, saat diskusi daring dan luring dalam memperingati Hari Santri di Magelang, Kamis, 21 Oktober 2021.

Gus Im menambahkan syarat kedua adalah orang yang rajin menegakkan salat karena salat adalah barometer akhlak manusia.

Baca Juga: Dikunjungi Sahabat Suara Merdeka, Komunitas Diajeng Merasa Spesial

"Pemimpin yang baik dan layak dipilih, adalah pemimpin yang menegakkan salat. Salat melahirkan tanggung jawab," ujarnya.

Syarat ketiga adalah gemar menunaikan zakat dan sedekah, karena zakat bukan hanya membersihkan harta kotor saja melainkan membersihkan harta diri sendiri dari hak orang lain.

Sedangkan syarat keempat adalah orang yang suka berjamaah, artinya suka bergaul dengan masyarakat dan berusaha mengetahui keadaan rakyat sebaik-baiknya serta mencari jalan keluar atas persoalan-persoalan yang dihadapi rakyatnya.

Hal ini juga sejalan dengan momentum pemilihan ketua umum PBNU di Desember 2021. Gus Im berharap Muktamar NU 2021 nanti dapat terpilih sosok ketua umum PBNU yang minimal memiliki empat syarat tersebut.

Baca Juga: Pengisian 1.033 Lowongan Perangkat Desa, Kapolres Blora Minta Tidak Ada Celah Kecurangan

Selain itu, bisa mudah diterima seluruh pengurus PW maupun PCNU se-Indonesia dan solutif terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi organisasi.

"Mari kita kembali merenungkan filosofi lambang NU. Makna bintang sembilan yang terdiri dari empat bintang di atas bumi dan empat bintang di bawah bumi serta bintang paling besar. Ketika mengerti tentang NU, maka tak perlu risau. Fa Insya Alloh kita mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW, dan tak perlu memikirkan pembenahan NU tapi cukup diri kita yang berbenah," ungkapnya.

Gus Im menegaskan NU bukan partai politik. Sehingga, masuk NU untuk memperbaiki diri tidak untuk menyetir NU.

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB

Omicron Masuk Jawa Tengah

Sabtu, 22 Januari 2022 | 01:18 WIB
X