Kegigihan Warga Tlogosari Kulon, Merawat Kucing yang Terlantar dan Cacat, Diapresiasi juga Diuji

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 21:18 WIB
MEMPERLIHATKAN KUCING : Pasangan suami isteri Agus Martadi dan Agustin Veronica memperlihatkan salah satu kucing peliharaannya di rumah kucing, Jalan Tlogomukti Timur, RT 2 RW 26, Kelurahan Tlogosari Kulon, Pedurungan, Kota Semarang. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)
MEMPERLIHATKAN KUCING : Pasangan suami isteri Agus Martadi dan Agustin Veronica memperlihatkan salah satu kucing peliharaannya di rumah kucing, Jalan Tlogomukti Timur, RT 2 RW 26, Kelurahan Tlogosari Kulon, Pedurungan, Kota Semarang. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Niat berbuat baik tak selamanya berbanding lurus dengan sambutan hangat dari orang.

Terkadang, apa yang dilakukan terkait dengan kegiatan sosial, dalam kaca mata kemanusiaan dan kehewanan begitu mulia, tapi dalam pandangan tertentu justru dianggap mengganggu.

Hal itu seperti yang dialami pasangan suami - isteri Agung Martadi dan Agustina Veronica.

Baca Juga: Identitas 'A' Mantan Pacar Kim Seon Ho Terungkap, Ini Sosoknya

Warga yang tinggal di Jalan Tlogomukti Timur, RT 2 RW 26, Kelurahan Tlogosari Kulon, Pedurungan, Kota Semarang bersepakat memelihara dan merawat kucing yang terlantar di jalanan.

"Ada sekitar 40 an kucing yang kami rawat. Hampir semuanya merupakan kucing berkebutuhan khusus (cacat), seperti buat mata, kaki pincang, kaki patah dan lainnya," kata Agustina Veronica, Kamis 21 Oktober 2021.

Sejak tahun 2016, Agus dan Veronica memberi makan kucing liar. Kebiasaan itu mereka mulai dari kejadian saat melintas di Pasar Satrio Wibowo, Tlogosari, Pedurungan, Kota Semarang.

Kegiatan memberi makan kucing itu hampir mereka lakukan setiap hari. Seiring berjalannya waktu, mereka mendapati semakin banyak kucing yang kondisinya memprihatinkan.

Baca Juga: Sering Alami Nyeri Parah Saat Haid, Waspadai Gejala Penyakit Ini

"Selain memberi makan beberapa kucing di Pasar Satrio Wibowo, Tlogosari, kami juga memberi makan kucing di beberapa tempat pembuangan sampah dan sejumlah pasar-pasar di wilayah Semarang," ujarnya.

Rupanya, kegiatan tersebut mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya dari Cat Lovers In The World (Clow) yang berpusat di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Puncaknya, pada Juni 2018, Agustin Veronica mendapatkan amanah menjadi ketua Clow Cabang Kota Semarang.

Setelah itu, selain memberi makan kucing liar, Agus dan Veronica juga memulai melakukan rescue (penyelamatan) kepada kucing liar, khususnya yang berkebutuhan khusus (cacat) karena tidak bisa mencari makan sendiri.

Baca Juga: Masih Keturunan Kraton Surakarta, Bupati Kebumen Diberi Gelar KRA H Arif Sugiyanto Wreksonagoro

Kucing-kucing tersebut selanjutnya ditampung dan dirawat di salah satu rumah Agustina Veronica.

Sebagai warga negara yang baik, Agus dan Veronica meminta izin ke pihak RT, RW dan kelurahan setempat.

Namun, pada tahun 2020 suasana agak berbeda. Kegiatan memberi dan merawat kucing liar maupun kucing yang berkebutuhan khusus yang sudah mereka lakoni selama hampir empat tahun itu mendapat protes dari sebagian kecil warga yang tinggal di wilayah tersebut.

Warga yang protes tidak banyak, hanya empat orang. Yang diprotes terkait adanya bau yang dianggap tidak sedap.

Jarak antara rumah warga yang protes dengan rumah rescue kucing pun cukup jauh. Hanya satu warga yang protes rumahnya cukup dekat dengan rumah rescue kucing itu.

Baca Juga: 40 Persen Pengidap Gangguan Jiwa di Kebumen Cenderung Ingin Bunuh Diri

Selebihnya, puluhan warga lainnya justru mendukung adanya perawatan kucing di rumah rescue kucing milik Agus dan Veronica tersebut.

Sebelumnya, sudah pernah dilakukan mediasi dan musyawarah di tingkat RT, namun pada Bulan Mei 2020, salah satu warga masih tidak terima dengan keberadaan rumah resque kucing tersebut.

Hingga akhirnya dinas terkait meninjau langsung lokasi tersebut dan dinyatakan sudah memenuhi standar dan syarat syarat yang ada.

Sejumlah sarana dan prasarana yang memadai terlihat di rumah rescue kucing tersebut, seperti AC, tiga alat penyedot udara, lap pel, dan sejumlah peralatan lainnya.

Baca Juga: Capaian Vaksinasi Baru 44 Persen, Purworejo Masih Bertahan di Level 3

Sehari dua kali ada pembersihan, dan kucing tidak biarkan keluar rumah.

"Di rumah rescue kucing ada empat pegawai, dan dua dokter pengampu yang rutin memeriksa secara berkala," imbuhnya.

Setidaknya Agus dan Veronica sudah memiliki beberapa surat izin, seperti surat Nomor Induk Berusaha (NIB), surat Izin Usaha Mikro Kecil, surat izin pemeliharaan kucing di Kelurahan Tlogosari Kulon, Surat Izin Lingkungan (tetangga), Surat Izin Pelaksanaan Kegiatan, dan lainnya.

Yoyok Sakiran dari Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) Jawa Tengah yang mendampingi persoalan tersebut akan ikut mengawal.

Baca Juga: KPI Gelar Riset Indeks Kualitas Program TV, Soroti Dua Konten

"LAI Jateng dapat aduan terkait rumah singgah maupun perawatan kucing. Kami sudah cek langsung lokasi, kebersihan terkontrol dengan baik, prosedurnya juga jalan," katanya.

Menurutnya, tidak semua orang memiliki kepedulian tinggi dalam merawat kucing yang terlantar apalagi dalam keadaan berkebutuhan khusus.

Pihaknya mengapresiasi dan mendukung langkah yang dilakukan Agus dan Veronica dengan merawat dan memelihara kucing-kucing berkebutuhan khusus tersebut.

"Kami ingin bertemu, ingin tahu maksud dan tujuan dari sebagian kecil warga yang merasa keberatan itu. Kami akan mencoba memediasi lagi mencari jalan keluar yang terbaik," katanya.

 

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Omicron Masuk Jawa Tengah

Sabtu, 22 Januari 2022 | 01:18 WIB
X