KPI Gelar Riset Indeks Kualitas Program TV, Soroti Dua Konten

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:05 WIB
FGD Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV periode 2 di Hotel Ciputra Semarang, Kamis 21 Oktober 2021(suaramerdeka.com/dok)
FGD Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV periode 2 di Hotel Ciputra Semarang, Kamis 21 Oktober 2021(suaramerdeka.com/dok)



SEMARANG, suaramerdeka.com – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggelar riset indeks kualitas program televisi. Ada dua hal yang menjadi sorotan, yakni infotainment dan sinetron yang hadir di tengah masyarakat.

Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi menyampaikan sinetron dan infotainment sering menjadi persoalan. Lantaran konten-konten yang dihadirkan seringkali kurang mendidik penontonnya. Konten keduanya malah terkadang masuk ke ranah privasi yang berpeluang besar terjadi pelanggaran.

“Dua kategori yang masih selalu saja menjadi persoalan, infotainment dan sinetron. Kami sudah minta LSF yang menyensor agar episode dibatasi, konstruksi cerita yang jelas,” ujarnya di sela-sela membuka FGD Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV periode 2 di Hotel Ciputra Semarang, Kamis 21 Oktober 2021.

Baca Juga: Menag Yaqut Ajak Kolaborasi Berbagai Kalangan Perkuat Moderasi Beragama

Dalam FGD tersebut hadir dari berbagai pihak mulai dari pemerhati, KPID Jateng hingga akademisi. Mereka diminta memberikan penilaian dan koreksi atas tayangan yang disuguhkan.

Sementara itu untuk konten-konten infotainment artis, lanjutnya, lebih banyak menyuguhkan hal-hal yang viral. Menayangkan soal masalah keluarga atau hal-hal privasi.

“Kalau bicara masalah pribadi, pasti membongkar masalah privasi. Ini tidak memberikan edukasi yang baik pada publik,” katanya.

Menurutnya, kegiatan FGD Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV tersebut dilakukan dua kali dalam setahun.

Tujuannya untuk mengukur seberapa tinggi kualitas tayangan jika dilihat dari kategori yang ada.

Baca Juga: Pemprov Jateng Cepat Tanggulangi Anak Terdampak Covid-19, Unicef Beri Apresiasi

Hal itu akan menjadi bagian masukan bagi lembaga penyiaran, apakah terjadi penurunan atau peningkatan kualitas siaran.

“Poin terpenting bukan pada penilaiannya tapi argumentasi mengapa diberikan skor itu. Itu akan menjadi masukan bagi lembaga penyiaran,” ujar Mulyo Hadi.

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB

Omicron Masuk Jawa Tengah

Sabtu, 22 Januari 2022 | 01:18 WIB
X