Cegah Penyebaran Penyakit Menular, 4 Pesantren di Demak Siapkan Santri jadi Kader Penanganan TBC

- Senin, 4 Oktober 2021 | 17:29 WIB
LOKAKARYA : Sejumlah santri dan pengurusan pesantren mengikuti Lokakarya Pemberdayaan Kader TB di Ponpes Miftahul Ulum, Jogoloyo, Senin, 4 Oktober 2021. (suaramerdeka.com/Hasan Hamid)
LOKAKARYA : Sejumlah santri dan pengurusan pesantren mengikuti Lokakarya Pemberdayaan Kader TB di Ponpes Miftahul Ulum, Jogoloyo, Senin, 4 Oktober 2021. (suaramerdeka.com/Hasan Hamid)

DEMAK, suaramerdeka.com - Sejumlah santri dan pengurus dari empat pondok pesantren di Kabupaten Demak disiapkan menjadi kader penanganan Tuberkulosis (TB).

Mereka pun dibekali pengetahuan tentang penyakit TB dan langkah antisipasi serta penanganannya yang diberikan melalui Lokakarya Program Pemberdayaan Santri Kader Tuberkulosis terhadap Perilaku Santri dalam Pencegahan TBC di Pesantren yang berlangsung di aula Ponpes Miftahul Ulum, Desa Jogoloyo Kecamatan Wonosalam, Senin 4 Oktober 2021.

Kegiatan yang digelar Yayasan Jaringan Pesantren Nusarantara (Jannur) bersama Kementerian Kesehatan tersebut menghadirkan nara sumber dari Dinkes Kabupaten Demak serta Puskesmas Wonosalam dan Mranggen.

Baca Juga: Anies Baswedan Surati Bloomberg Philanthropies, Jakarta 100 Persen Bebas Iklan Rokok

Adapun keempat pesantren yang dijadikan kader penanganan TB adalah Ponpes Miftahul Ulum Jogoloyo, Ponpes Kyai Gading Mranggen, Ponpes Al Jalil Wonosalam, dan Ponpes Tahfidzul Quran Mutiara Darul Fikri Dempet.

"Mereka nantinya menjadi tenaga sukarelawan yang bertugas melakukan deteksi dini terkait TBC di lingkungan pesantren," kata Nanang Hari Sudibyo,
Pengurus Yayasan Jaringan Pesantren Nusantara (Jannur) didampingi panitia kegiatan Irsyadul Ibad.

Adapun materi lokarya meliputi peran pesantren dalam penanganan TBC, survei mawas diri dan Screening TBC, musyawarah masyarakat pesantren dan dilanjutkan praktik kerja lapangan.

Baca Juga: Dave Grohl Sebut Sampul Album Nevermind Bisa Berubah Setiap Penerbitan Ulang

Menurutnya, kalangan pesantren menjadi salah satu lembaga yang mendapat perhatian pemerintah dalam penanganan TB dan Covid-19 menuju pesantren sehat.

Hal itu dikarenakan rata-rata pesantren memiliki santri dalam jumlah ratusan hingga ribuan jiwa yang bermukim di satu lokasi.

Dengan pembentukan kader TB tersebut, mereka memiliki tugas merencanakan sejumlah program mulai dari posko kesehatan, melakukan screening terhadap santri.

Screening diperlukan untuk menemukan terduga TBC sekaligus mengambil kebijakan agar tidak terjadi penularan di lingkungan pesantren.

"Apabila ada yang suspek TBC, maka dikomunikasikan dengan puskesmas setempat agar mendapat pengobatan sampai tuntas," tuturnya.

Baca Juga: Satlantas Salatiga Terus Gencarkan Sosialisasi Aplikasi Peduli Lindungi

Sementara itu petugas dari Puskemas Wonosalam, Suprojo menyampaikan, bahwa TB merupakan penyakit menular, sehingga perlu mendapat penanganan khusus agar tidak menyebar ke orang lain.

TB dapat menyerang siapa saja, terutama usia produktif dan dapat menyebabkan kematian jika tidak diobati.

"Meski berbahaya, penyakit ini dapat disembuhkan asal teratur minum obat selama 6-8 bulan," katanya.

Di antara gejala umum penderita TB adalah batuk terus menerus yang terjadi lebih dari dua minggu.

Gejala tambahan lainnya biasanya badan demam, nafsu makan menurun, keluar keringat pada malam hari.

Halaman:
1
2
3

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Perempuan Nelayan Jadi Tumpuan

Jumat, 31 Desember 2021 | 15:32 WIB

Bayar PBB-P2 Tepat Waktu, Warga Gajah Dapat Mobil

Kamis, 23 Desember 2021 | 21:09 WIB

Kerukunan Beragama Jadi Alat Pemersatu Bangsa

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:24 WIB
X