Ranti Petani Cabai Cantik Asli Grobogan, Lebih Memilih Bertani Ketimbang Kerja di Kantoran

- Sabtu, 25 September 2021 | 00:21 WIB
Marantias Tiandari (28), gadis manis asli Desa Guci, Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan yang memilih jadi petani ketimbang kerja di kantoran. (SM/DOK)
Marantias Tiandari (28), gadis manis asli Desa Guci, Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan yang memilih jadi petani ketimbang kerja di kantoran. (SM/DOK)

 

GROBOGAN, suaramerdeka.com - Bertani bukan sebuah pilihan popular bagi para generasi milenial saat ini.

Mereka lebih memilih pekerjaan yang kekinian atau pekerjaan tetap seperti perkantoran, guru, hingga menjadi buruh di sebuah pabrik perseroan. Atau jika memilih usaha sendiri, berdagang adalah sebuah pilihan yang mereka cari.

NAMUN berbeda dengan seorang Marantias Tiandari (28). Gadis manis asli Desa Guci, Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan ini lebih memilih untuk meneruskan pekerjaan almarhum ayahnya sebagai petani Lombok.

Kisah Ranti sapaan akrabnya, yang memilih untuk menggeluti dunia pertanian patut dijadikan teladan bagi kaum muda.

Baca Juga: Paksakan Game Hingga Menit 20, Bigetron Alpha Beri Kekalahan Pertama untuk Alter Ego

“Teman seangkatan saya di di SMK 1 Purwodadi rata-rata lebih memilih bekerja di kantoran, tapi jarang yang seperti saya. Menurutku lebih enak jadi bos untuk diri sendiri,” ujar putri pasangan alm Maryoto dan Siti Toharoh itu saat ditemui Suara Merdeka di kediamannya.

Keputusannya menjadi petani memang tidak langsung datang tiba-tiba. Tahun 2011, usai lulus sekolah, Ranti sempat mencari pekerjaan di Semarang. Namun hasilnya nihil. Tak ada satupun panggilan kerja dari puluhan kertas lamaran yang telah ia diajukan ke perusahaan.

Hingga akhirnya, dia nekat mengadu nasib ke luar negeri. Pada tahun 2013, Ranti pamit kepada kedua orang tuanya untuk bekerja di salah satu pabrik di Korea Selatan.

“Rencana awal sih pergi ke luar negeri mau kuliah jurusan Administrasi karena memang dulu di SMK lulusan Administrasi Perkantoran,” katanya.

Sepulang dari Korea, keluarga di rumah sedang sibuk bersiap untuk menanam. Lahan, bibit dan segala sesuatu yang dibutuhkan sudah dipersiapkan.

Namun, sang ayah, Maryoto jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Persiapan tanam pun buyar. Keluarga berduka. “Benih yang disiapkan akhirnya dijual kembali,” katanya.

Baca Juga: Usai Absen Lama, Liga Askot Semarang Kembali Digelar

Merintis Kembali

Kakak dari Nico Ageng Wibowo (19), itu tidak mau larut dalam kesedihan yang mendalam, meski meninggalnya sang ayah memang membuat ia dan keluarganya terpukul. Namun, hal itu hanya akan membuatnya terjerumus dalam kegagalan.

Dibantu sang paman (Dani), Ranti mencoba merintis kembali usaha ayahnya. Ranti mulai belajar memahami cara mengolah lahan, membuat pembenihan, cara menanam, pemupukan, hingga pemasaran. “Terjun di dunia pertanian tanpa guru, hanya dibantu om saya,” sambungnya.

Awalnya, Ranti hanya meneruskan usaha sang ayah. Kemudian, Tahun 2019 Ranti membeli tanah seluas 1.300 meter persegi untuk memperluas lahan. Pilihannya jatuh pada tanaman cabai.

“Orang sini monoton hanya menanam padi dan bawang merah. Kalau cabai masih kurang peminatnya,” tuturnya sembari mengingat kembali memori masa lalunya.

Pada tahun 2020, Ranti pertama kali merasakan panen lombok dari hasil usahanya sendiri. Ranti girang bukan main. “ Saya panen Lombok sendirian. Hasilnya 20 kilogram,” tuturnya antusias.

Baca Juga: Paksakan Game Hingga Menit 20, Bigetron Alpha Beri Kekalahan Pertama untuk Alter Ego

Baginya, terjun di dunia pertanian secara penuh adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Banyak hal-hal baru yang ia jumpai.

Jika sebelumnya, ia hanya bantu-bantu ayahnya saat panen, kini ia harus mengerjakan semuanya sendiri.

Jungkir balik dalam bertani tak membuatnya kendur dan memilih terus berjuang karena dirinya yakin tak ada usaha yang sia-sia. “Harapannya tidak muluk-muluk, terpenting selalu jalan terus,” ucap dia.

Bahkan, ia sempat harus menanggung kerugian Rp 10-15 juta gara-gara harga cabai anjlok pada tahun 2020. Saat itu, harga lombok di Grobogan turun drastis.

Dari harga semula Rp 20 ribu perkilogram turun menjadi Rp dua ribu hingga Rp empat ribu perkilogram.

“Awal pandemi semua harga anjlok. Dijual pun susah. Akhirnya, cabai-cabai itu saya jemur, dikeringkan. Saya jual kering. Dari 10 kg cabai yang dikeringkan hanya 2 kg yang terjual,” kisah dia.

Baca Juga: Tingkatkan Perlindungan Tahanan, 172 Ribu Napi Divaksinasi

Kendala lainnya, adalah hama tikus, jamur dan sulitnya mencari pupuk yang jamak dihadapi para petani di Grobogan.

“Susah mencari pupuk subsidi, harganya naik drastis. Padahal harga cabai sedang anjlok. Tapi kalau mau jadi petani sejati itu mau gagal mau sukses ya harus dijalani, jadi prinsip itu,” tandasnya.

Kini, Ranti ingin memperluas bisnisnya dengan berjualn pupuk dan kebutuhan pertanian lainnya. Berkat ketekunan dan keuletannya, ia berhasil menjadi petani muda yang sukses.

"Dengan kehadiran tim ECHO Green yang didukung pendanaan Uni Eropa kami semakin semangat dalam mengembangkan pengetahuan bertani," katanya.

Ranti berharap di Hari Tani Nasional ini kalangan generasi muda mengikuti jejaknya menjadi petani. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Memiliki lahan yang sangat luas dan subur.

“Ayolah jangan turun ke kantoran saja, cobalah turun ke pertanian. Indonesia lahannya luas lho, kita bisa menjadi negara super lho. Kenapa ga dikembangin negara kita,” ucapnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Muslimat dan Fatayat Dilatih Pemulasaraan Jenazah

Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:25 WIB

Pemkab Grobogan Bakal Perketat Pengawasan Orang Asing

Jumat, 24 September 2021 | 20:29 WIB
X