Mahasiswa FH Unissula Meninggal Usai Ikut Diksar Mapakum

- Senin, 2 Desember 2019 | 20:45 WIB
Jumpa Pers Terkait Meninggalnya Peserta Diksar Mapakum di Gedung Rektorat Unissula Semarang, Senin (2/12). (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Jumpa Pers Terkait Meninggalnya Peserta Diksar Mapakum di Gedung Rektorat Unissula Semarang, Senin (2/12). (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Fattakhul Dzikri Hidayatullah atau akrab disapa Fattah (19 tahun), mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, meninggal dunia usai mengikuti pendidikan dasar (diksar) Mahasiswa Pecinta Alam Hukum (Mapakum) Unissula di Nglimut, Boja, Kendal, Minggu (1/12). Dekan Fakultas Hukum Unissula, Prof Dr Gunarto SH Mhum menyatakan, Unissula telah kehilangan mahasiswa terbaik.

"Fattah sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Hampir tiap hari masuk ke ruangan saya. Dia anak yang kritis, tekun salatnya," kata Prof Dr Gunarto, saat jumpa pers di gedung rektorat Unissula, Senin (2/12).

Gunarto menambahkan, hari rabu lalu (27/11), Fattah sempat pamit ke ruangannya untuk minta doa restu. "Saat lihat dia di kamar mayat, saya buka dan sembari menangis saya berdoa: ya Allah terimalah dia di surgaMu," kata Gunarto, sembari sedikit menitikkan air mata.

Selanjutnya, jenazah Fattah telah diantar pimpinan Unissula, Fakultas Hukum Unissula, beserta dosen dan mahasiswa Unissula ke kediaman orang tua Fattah di Desa Banjaran, Kecamatan Taman, Pemalang. "Karena Fattah adalah cucu yang sangat disayangi neneknya, dia dimakamkan di samping neneknya," tambah Gunarto.

Sementara Staf Khusus Bidang Hukum Unissula, Dr Rahmat Bowo, dalam keterangan persnya mengatakan, bahwa kronologi almarhum  adalah salah satu peserta diksar. Mulai dari pelepasan hari Rabu (27/11), almarhum mulai melakukan kegiatan itu mulai dari malam kamis sampai sabtu malam. "Nah, insiden yang menimpa almarhum terjadi pada sabtu maghrib. Saat itu kondisinya memang hujan. Almarhum sudah dalam posisi bergerak menuju tenda panitia setelah mereka melakukan kegiatan-kegiatan tadi. Pada saat bergerak menuju ke tenda panitia, almarhum terpeleset dan jatuh. Terpeleset penyebab apa, jatuhnya bagaimana tidak diketahui panitia dan teman yang dekat dengan bersangkutan. Mengapa? Karena situasinya malam, gelap, begitu jatuh, baru setelah ketahuan jatuh mulai dibangunkan," jelas Rahmat Bowo.

Pada saat dibangunkan, lanjut Rahmat, almarhum masih dalam posisi bernafas. "Tetapi karena panitia melihat akan terjadi hal yang tidak diinginkan, kemudian dilakukan pertolongan di tempat kejadian. Kemudian almarhum dibawa dengan tandu menuju tenda panitia. Setelah sampai tenda panitia, almarhum masih ditolong dengan peralatan seadanya. Termasuk di dalamnya tabung gas oksigen. Pada saat itu menurut panitia, almarhum masih sempat menghirup. Cuma di dalam perkembangan berikutnya, tidak cukup bagus, maka almarhum dibawa ke puskesmas terdekat. Namun di puskesmas terdekat, dokter yang bertugas di sana tidak sedang ada di tempat. Karena itu almarhum dibawa ke rumah sakit yang ada di Kaliwungu," tuturnya.

"Kemudian almarhum dilakukan perawatan secepat mungkin termasuk diagnosis terhadap penyakit dan apa-apa yang dihadapi almarhum. Saat dilakukan perawatan ini, mahasiswa berupaya menghubungi orang tua, untuk bisa mengabarkan situasi dari almarhum ini. No kontak orang tuanya ada di hp. Namun hp almarhum ternyata menggunakan password, sehingga mahasiswa kesulitan menemukan no kontak orang tuanya," ungkapnya.

"Kemudian rumah sakit terus melakukan perawatan terhadap almarhum, dan mahasiswa menunggu. Namun detik-detik menjelang jam 4 pagi, kondisi almarhum mengalami drop, dan akhirnya beliau meninggal dunia pada jam 4 pagi. Setelah dinyatakan meninggal, pimpinan universitas dan fakultas baru mengetahui pada pagi hari. Itu yang terkait kronologi, jadi penjelasan atau keterangan awal, maka dengan tim yang telah dibentuk untuk melakukan pendalaman terkait keterangan ini. Pendalaman itu diharapkan mendapatkan fakta yang sebenarnya dan akan menjadi bahan bagi pimpinan fakultas untuk mengambil langkah tindak lanjut," pungkasnya.

Sementara Ketua Umum Mapakum Unissula, Muhammad Naufal Alif Yafi mengatakan, bahwa semua peserta diksar sudah melakukan cek kesehatan. Kemudian peserta juga tes wawancara punya penyakit apa dan obat khusus apa yang disediakan. "Jadi kalau sudah ada obat khusus, harus menyerahkan kepada tim P3K. Jadi kalau ada peserta kambuh, maka obat khusus itu akan diberikan," jelasnya.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

RSUD Kota Salatiga Zero Pasien Covid-19

Senin, 18 Oktober 2021 | 22:12 WIB

Muslimat dan Fatayat Dilatih Pemulasaraan Jenazah

Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:25 WIB
X