Kendala Nonakademik Tantangan Serius Calon Profesor

- Rabu, 27 November 2019 | 10:36 WIB
KANTONGI SK: Empat profesor yang menerima SK diapit Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jateng Sugiharto (paling kanan) serta Sekretaris LLDIKTI, Amsar (paling kiri). (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)
KANTONGI SK: Empat profesor yang menerima SK diapit Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jateng Sugiharto (paling kanan) serta Sekretaris LLDIKTI, Amsar (paling kiri). (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Lektor kepala atau doktor harus menempuh tahapan panjang untuk bisa meraih mimpinya jadi guru besar atau profesor. Mereka harus menyelesaikan artikel atau karya ilmiah sesuai standar kualifikasi tim penilai. Ketentuan akademik itu terkadang masih jadi kendala dalam proses perjalanan calon profesor. Namun, tantangan seriusnya justru nonakademik yaitu cepat putus asa.

"Kendala paling serius adalah nonakademik, calon profesor itu kadang saat diberitahu kekurangannya bisa kecewa dan enggan melanjutkan tahapannya. Karena putus asa, malah ada yang minta pensiun dini demi fokus menjalani bisnis," kata Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jateng Prof Dr DYP Sugiharto usai menyerahkan surat keputusan kenaikan (SK) jabatan fungsional profesor terhadap empat dosen di kantor LLDIKTI Jateng, Selasa (26/11).

Keempat dosen itu ialah Sisunandar PhD (Universitas Muhammadiyah Purwokerto/ UMP), Dr Mudzakkir Ali (Universitas Wahid Hasyim/ Unwahas), Dr Amron (Universitas Dian Nuswantoro/ Udinus), serta Dr Muhammad Da'i (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Menurut Sugiharto, keberhasilan meraih profesor merupakan prestasi bersama, antara perguruan tinggi dan dosen. Karenanya, para rektor diminta mengidentifikasi lektor kepala atau doktor untuk diusulkan meraih gelar profesor.

Selanjutnya, LLDIKTI akan mendamingi secara klinis, sampai usulannya berproses. "Pelajaran menarik kesuksesan empat profesor, yaitu dalam kondisi apa pun tidak boleh menyerah. Virus semangat harus dibawa ke rekan lain yang hendak berproses jadi profesor," tandas Sugiharto.

Di sisi lain, Rektor Udinus Prof Dr Edi Noersasongko MKom mengatakan, kesuksesan Amron meraih gelar profesor bisa jadi pemicu dan pemacu dosen universitasnya. Perjuangan tak kenal lelah itu membuahkan hasil. "Rekan kami, Amron akhirnya meraih gelar profesor yang didambakan semua dosen. Kami pun mendorong dosen Udinus rajin mengumpulkan aneka macam kegiatan maupun administrasi untuk mewujudkan impian jadi guru besar," tandasnya.

Kini, Udinus total telah punya tujuh profesor. Di sisi lain, Sisunandar mengaku sudah hampir putus asa karena tiga kali mengalami kegagalan. Namun, rekan-rekan di UMP mendorongnya bangkit hingga berhasil meraih profesor. Usai menerima SK tersebut, Sisunandar langsung menanam bibit pohon kelapa kopyor hasil penelitiannya. Dari hasil riset, ia mampu membuat satu pohon yang seluruh kelapanya kopyor.

Editor: Andika

Tags

Terkini

Hendi: Pungut Biaya di Luar Ketentuan, Binasakan

Selasa, 7 Desember 2021 | 19:53 WIB

Bupati Eisti'anah Apresiasi Donor Darah FKUB Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 09:24 WIB
X