Menutup Aurat bagi Muslimah

Rosikhan
- Sabtu, 23 November 2019 | 00:20 WIB
Foto: suaramerdeka.com/Dok
Foto: suaramerdeka.com/Dok

AKHIR-AKHIR ini, pakaian muslimah sering dipersoalkan dan diperbincangkan masyarakat, baik melalui media sosial maupun masa. Hal ini dipicu oleh adanya peristiwa yang melibatkan oknum muslimah yang melakukan kejahatan dengan mengenakan pakaian muslimah.

Sebenarnya, bagaimana tuntunan Islam tentang pakaian muslimah itu? Mengacu pada al-Quran, al-Hadits, serta pendapat ulama, salah satu fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat, yakni bagian tubuh yang harus ditutupi karena tidak “pantas” dilihat oleh orang lain dan bisa menimbulkan rasa malu.

Al-Quran memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat. Para ulama membedakan aurat untuk laki-laki dan perempuan. Bagi laki laki, aurat meliputi bagian tubuh yang berada di antara lutut dan pusar. Sedangkan untuk perempuan, aurat mencakup seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sesuai dengan pengertian tersebut, bagian-bagian tubuh itulah yang harus ditutup dengan pakaian.

Terkait dengan pakaian perempuan, secara khusus, Allah memerintahkan kepada mereka yang beriman untuk menahan pandangan dan kemaluan (QS.An-Nur, 24:31). Dalam ayat yang sama, Allah juga melarang mereka untuk menampakkan perhiasan kecuali  yang (biasa) nampak dari padanya. Untuk itu, Allah merintahkan perempuan mu’min untuk menutupkan kerudung ke dadanya, untuk membedakan dari perempuan lain yang tidak mu’min. Hal ini di antaranya berfungsi agar perempuan mudah dikenal dan tidak diganggu (QS Al-Ahzab, 33:56).

Perintah ini dioperasionalkan oleh Nabi dengan memberitahu Asma’ untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua tanggannya, khususnya bagi perempuan yang telah mencapai umur baligh atau dewasa (HR Abu Dawud, dari Aisyah RA).

Bagaimana dengan cadar atau burqa yang dipakai oleh sebagian kelompok perempuan ketika mereka berada di area publik? Mereka menutup seluruh tubuhnya, kecuali matanya saja. Bahkan banyak di antaranya memakai pakaian yang seluruhnya berwarna hitam.

Pemakaian cadar oleh perempuan di tempat umum ini telah menimbulkan kontraversi di dalam masyatrakat Muslim di Indonesia. Mengapa?

Pertama, pemakaian cadar tersebut merupakan tradisi baru di masyarakat Indonesia karena tidak dijumpai dalam tradisi yang selama ini telah mengakar dan dipakai oleh perempuan Muslimah di Indonesia.

Kedua, pemakaian cadar tidak dijumpai dasar yang kuat dalam al-Qur’an maupun hadits. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, prinsip dasar aurat perempuan yang harus ditutup adalah seluruh badan, kecuali muka dan tangan. Bahkan saat melakukan sholat dan haji (pakaian ihrom), perempuan diharamkan menutup mukanya. Padahal saat ihrom tidak ada pemisahan tempat antara laki-laki dan perempuan, mereka bercampur di satu tempat. Dengan demikian, menutup muka dengan cadar ketika di area publik bukanlah suatu tuntutan agama.

Sebenarnya, pemakaian cadar merupakan tradisi berpakaian di sebagian masyarakat Muslim di beberapa negara lain, yang memiliki kondisi dan tradisi relasi gender yang sangat berbeda dengan Indonesia. Di Arab Saudi, misalnya, relasi gender sangat terbatas, di mana perempuan dan laki-laki dipisahkan secara ketat. Perempuan hanya boleh keluar rumah kalau ditemani oleh muhrimnya, laki-laki dewasa yang masih ada hubungan keluarga dekat, seperti suami, ayah, anak dan sebagainya, yang diharamkan untuk menikahinya. Hal ini tidak terlepas dari kondisi sosial budaya yang berkembang di sana.

Dengan demikian, pemakaian cadar oleh perempuan ketika keluar rumah, bukanlah merupakan tuntunan ajaran Islam karena tidak ada dasar yang kuat dalam al-Qur’an dan hadits. Bahkan pemakaian cadar dapat menghalangi seseorang untuk dikenali.

Secara mendasar, Islam menetapkan bahwa pakaian perempuan harus menutupi aurat, yakni seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Sementara modelnya dapat disesuaikan dengan perkembangan, selama tidak bertentangan dengan prinsip agama.

Karena itu, bagi perempuan di Indonesia, jangan ragu, dengan memakai jilbab dan pakaian yang menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan seperti yang selama ini dipakai. Selama model pakaian tersebut tidak menonjolkan berahi lawan jenis, maka pakaian tersebut telah memenuhi tuntutan agama Islam sebagaimana yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi. Pemakaian cadar di muka umum merupakan pakaian yang berlebihan karena melampaui ketentuan agama dan tradisi yang sudah mengakar di Indonesia dan seharusnya dihindari karena akan menarik perhatian umum.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

*Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., Sekretaris Majelis Ulama Indoensia Jawa Tengah

Halaman:

Editor: Rosikhan

Terkini

Nyali Besar, Panjat Tower 30 Meter Tanpa Gemetar

Kamis, 2 Desember 2021 | 14:14 WIB

Pemkab Demak Dorong Pertumbuhan Kampung Ternak

Kamis, 2 Desember 2021 | 10:12 WIB

Ini Penyebab Banjir di Kendal, 22 Pintu Air Rusak

Kamis, 2 Desember 2021 | 09:51 WIB
X