Kolaborasi Eksperimental Lintas Negara

- Minggu, 17 November 2019 | 23:20 WIB
INTERNATIONAL COLLABORATION: Didik Nini Thowok berkolaborasi dengan sejumlah penari dari dari Tokyo, Phnom Penh, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Taipei menggelar International Collaboration, the Interrupted Dream Series – In Search of a Dream. Pertunjukan digelar di Concert Hall ISI Yogyakarta, Jumat dan Sabtu (15-16/11). (SM/Nugroho DS)
INTERNATIONAL COLLABORATION: Didik Nini Thowok berkolaborasi dengan sejumlah penari dari dari Tokyo, Phnom Penh, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Taipei menggelar International Collaboration, the Interrupted Dream Series – In Search of a Dream. Pertunjukan digelar di Concert Hall ISI Yogyakarta, Jumat dan Sabtu (15-16/11). (SM/Nugroho DS)

SEMARANG, suaramerdeka.com - MUSIK eksperimental mengisi dinamika pertunjukan kolaborasi lintas budaya-negara bertajuk ''The Interrupted Dream Series'' di Concert Hall, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jumat-Sabtu (15-16/11). Penari kenamaan, Didik Nini Thowok, berpentas bersama 7 penari dan aktor teater dari 7 negara di Asia.

Pertunjukan disutradarai oleh Danny Young, dari organisasi budaya dan pertunjukan eksperimental asal Hongkong, Zuni Icosahedron. Dia dibantu oleh sutradara, aktor, guru teater dari Singapura, Liu Xiaoyi.

Secara konsep, pertunjukan dirujuk dari drama tagikomedi romantis yang ditulis oleh dramawan Tiongkok, Tang Xianzu pada 1598 berjudul ''The Peony Pavilion''. Dalam pentas, mengungkapkan hubungan antara Eropa dan Asia. Diwakili oleh kisah Raja Prancis, Louis XIV yang tegila-gila dengan budaya Tiongkok.

Busana yang digunakan para aktor juga mengenakan gaun pesta Eropa. Tokoh wanita mitologi Yunani berambut ular, Medusa, dihadirkan dalam topeng.

Seniman yang berkolaborasj antara lain, aktor opera Kunqu Tiongkok, Chaohsin, aktor teater kontemporer Singapura, Sabrina Sng, penari dan koreografer kontemporer Jepang, Makoto Matsushima.

Kemudian, penari tradisional dan aktor teater kontemporer Malaysia, Soultari Amin Farid, penari Nora Thailand, Nattapon Wannaun, penari tradisional Kamboja, Nget Rady, aktor opera Kanton, Hongkong, Kong Chun Kit.

Mereka mengkisahkan gadis di Tiongkok yang mengalami budaya pingit, Du Liniang. Gadis remaja itu mengalami puber. Dia membayangkan pria berada di sampingnya.

Dalam keadaan itu, gadis mengalami mimpi. Seorang pria menemaninya. Tetapi, perjalanan mimpinya belum tuntas. Gadis sudah terbangun. Tokoh utama ini diperankan oleh Didik Nini Thowok.

Selama pertunjukan, lirik lagu ''Shan Po Yang'' ditampilkan dalam layar. Dinyanyikan dalam olah suara dengan teknik opera tertua di Tiongkok, Kunqu.

Tempo permainan yang sangat lamban merupakan khas opera Kunqu. Mengandalkan kekuatan kontrol para aktor. Menyajikan pertunjukan dengan perhatian penonton yang intens dan intim.

''Pentas ini berawal dari pertemuan saya dengan Danny Young, sekitar 2004. Saat itu masih bergabung dengan Association of Asia Pacific Performing Arts Centre,'' kata Didik Nini Thowok.

Danny mempunyai proyek sendiri yang menghadirkan kolaborasi opera Tiongkok. Didik kemudian belajar melakukan opera Kunqu. Dia terkesan dengan teknik gerakan yang lembut di konsep opera tersebut. Didik belajar di Taiwan.

''Gerakannya sangat lembut, tidak boleh ada sudut yang tajam. Membutuhkan kontrol yang sangat kuat,'' terangnya.

Dimulai dari laku belajar itu, muncul ide membuat pertunjukan. Bersama organisasi budaya dan pertunjukan eksperimental asal Hongkong, Zuni Icosahedron, dibuka kesempatan seniman lintas negara untuk bergabung.

Di Indonesia, pertunnjukan tersebut juga akan digelar pada 19 November di Institut Seni Indonesia Denpasar, Bali, dan 22 November di Salihara, Jakarta. ''Kami berkumpul sudah lama. Jadi kolaborasi menjadi mudah. Sudah konek. Akrab dari hati,'' pungkasnya.

Editor: Achmad Rifki

Tags

Terkini

X