Sepak Bola Api Meriahkan Refleksi Hari Santri 2019

- Senin, 21 Oktober 2019 | 20:35 WIB
Para santri putra pondok pesantren Askhabul Kahfi, Gunungpati, Semarang asuhan KH Masrokhan Bisri asyik bermain sepakbola api memeriahkan Istihatsah Kebangsaan dalam rangka Refleksi Hari Santri 2019. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)
Para santri putra pondok pesantren Askhabul Kahfi, Gunungpati, Semarang asuhan KH Masrokhan Bisri asyik bermain sepakbola api memeriahkan Istihatsah Kebangsaan dalam rangka Refleksi Hari Santri 2019. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Para santri putra pondok pesantren Askhabul Kahfi, Jalan Cangkiran-gunungpati km.3 Polaman, Mijen, Semarang, Sabtu malam menggelar sepak bola api.

Mereka asyik bermain layaknya memakai bola sepak seperti biasa. Bedanya dengan sepak bola biasa, permainan sepak bola api menggunakan bola terbuat dari kelapa yang sudah dikeringkan dan dicelup dengan bahan bakar minyak dan disulut api.

‘’Tentu saja mereka tidak terbakar dan tersengat api juga tidak merasakan panas karena sebelumnya sudah dibacakan doa-doa oleh para kiai,’’ kata Ketua Panitia Hari Santri PCNU Kota Semarang, Asikin Khusnan.

Menurutnya, sepakbola api bisanya dimeriahkan sepakbola durian dan bermain bola di atas duri-duri pohon salak serta pecahan kaca. ‘’Sepak bola durian dan atraksi kebal senjata tajam tidak kami tampilkan. Insya Allah kami tampilkan pada kesempatan lain,’’ katanya.

Kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan Istighatsah Kebangsaan dan refleksi hari santri di pondok pesantren Askhabul Kahfi. Hadir pada kesempatan itu Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarusman, para anggota dewan dan ribuan pengunjung yang memadati halaman pondok pesantren itu. Istighatsah kebangsaan dipimpin KH Ahmad Hadlor Ikhsan, sedangkan refleksi hari santri disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubedulloh Shodaqoh dan Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail Lc.

-
Pengasuh pondok pesantren Al-Islah Mangkang Kulon, KH Ahmad Hadlor Ikhsan, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubedulloh Shodaqoh dan Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail Lc memimpin istighatsah kebangsaan di pondok pesantren Askhabul Kahfi, Jalan Cangkiran-gunungpati km.3 Polaman, Mijen, Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

Sampaikan Terima Kasih

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada para santri karena mereka dalam masa perjuangan ikut merebut kekuasaan dari tangan penjajah, kemudian mempertahankan dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga sekarang. ‘’Sehingga sangat tepat bila Presiden Jokowi memutuskan 22 Oktober sebagai Hari Santri sebagai penghargaan eksistensi santri ini dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres),’’ tegasnya.

Hendy mengingatkan, para santri harus terus mewaspadai ada kekuatan yang mencoba mengganggu kedaulatan NKRI dengan mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah. ‘’Indonesia ini dibangun atas kemajemukan dan keberagaman. Mari kita jaga NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ikanya,’’ tegas Wali Kota. Indonesia menurutnya akan mengalami masa kejayaan pada usia 100 tahun mendatang atau tahun 2045. Ada dua negara yang akan menjadi pesaing Amerika dan China. Siapa dia? India dan Indonesia. Tahun 2045 adalah era kalian para santri. Persiapkan diri dari mulai sekarang,’’ katanya.

Ketua PCNU, Drs KH Anasom menjelaskan, dalam rangka Hari Santri Kota Semarang, pihaknya menggelar 20 kegiatan lebih tersebar di Kota Semarang. Kegiatan itu antara lain sosialisasi empat pilar di 16 kecamatan, lomba membaca kitab kuning, donor darah, lomba menulis surat untuk Mas Hendy, workshop kurnalistik santri, resik-resik masjid, ziarah ke makam-makam pendiri NU, pameran UMKM dan hasil karya santri, kirab resolusi jihad dan lain-lain.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Parkir Tepi Jalan Akan Diberlakukan Elektronik

Selasa, 25 Januari 2022 | 21:44 WIB

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB
X