Konsumsi Daging Anjing Tinggi, Rabies Ancam Jateng

- Senin, 30 September 2019 | 05:22 WIB
RABIES Day: Gubernur Ganjar Pranowo dan Kepala Disnak Keswan Jateng Lalu M Syafriadi menghadiri World Rabies Day 2019 di Taman Indonesia Kaya Semarang, Minggu (29/9). (suaramerdeka.com/Dok)
RABIES Day: Gubernur Ganjar Pranowo dan Kepala Disnak Keswan Jateng Lalu M Syafriadi menghadiri World Rabies Day 2019 di Taman Indonesia Kaya Semarang, Minggu (29/9). (suaramerdeka.com/Dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sejak tahun 1995 tidak ditemukan kasus rabies di Jawa Tengah. Namun tingginya peredaran daging anjing di Jateng menjadi ancaman munculnya penyakit tersebut. Maka, Bupati/Wali Kota se-Jateng diminta mengeluarkan peraturan pelarangan konsumsi daging anjing.

Tingginya peredaran olahan daging anjing di Jawa Tengah didominasi dari Solo Raya. Data dari Dog Meet Free Indonesia (DMFI) menyebutkan seratus lebih warung olahan anjing berada di sana. Di Kota Solo saja ada 82 warung. Sementara untuk memenuhi kebutuhan tersebut setiap bulan sebanyak 13.700 ekor anjing dibantai di Solo dengan pemasok utamanya adalah Jawa Barat yang notabene belum terbebas dari rabies.

‘’Sebenarnya kita minta kepala daerah, tokoh agama dan tokoh masyarakat ayo kita dorong ajari masyarakat agar mengkonsumsi hewan yang layak dikonsumsi. Kita kampanyekan anjing itu bukan hewan konsumsi. Mari kita hentikan,’’ kata Ganjar di sela-sela acara World Rabies Day 2019 di Taman Indonesia Kaya Semarang, Minggu (29/9).

Di acara tersebut hadir Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng, Lalu M Syafriadi serta ratusan pegiat hewan peliharaan.

Acuan pemerintah kabupaten/kota untuk menerbitkan peraturan pelarangan mengkonsumsi olahan daging anjing sebenarnya telah ada. Yakni Undang-undang No 18 tahun 2012 tentang Pangan. Pada Pasal (1) yang mengatakan bahwa anjing tidak termasuk dalam makanan konsumsi karena bukan merupakan sumber hayati produk peternakan, kehutanan atau jenis lainnya.

Risiko konsumsi anjing terbilang tinggi dan mematikan. Kemungkinan penyakit yang ditimbulkannya adalah rabies, penyakit kulit ringworm dan cacingan.

"Jangan makan sengsu atau tongseng asu (anjing), ada tongseng yang lebih enak, tongseng sapi, kambing, ayam bisa. Itu juga untuk kesehatan manusia juga. Anjing untuk piaraan saja," katanya.

Bagi masyarakat yang memelihara anjing piaraan, kata Ganjar, mesti rajin merawat. Membawa ke dokter hewan untuk diberi vaksin berkala dan memberikan makanan yang sehat.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng, Lalu M Syafriadi mengatakan di Jawa Tengah jenis  hewan yang berpotensi pembawa rabies mencapai ratusan ribu ekor. Anjing ada 74.801 ekor, kucing sebanyak 275.086 ekor, dan kera sebanyak 2.525 ekor.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

Pasar Karangawen Terbakar, 229 Los dan Kios Ludes

Kamis, 20 Januari 2022 | 10:36 WIB
X