Warga Purwosari Tetap Bertahan Produksi Bandeng

- Senin, 23 September 2019 | 08:45 WIB
Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kampung Bandeng di Purwosari Kelurahan Tambakrejo telah ada sejak 1980-an. Inisiasi pendiriannya berawal dari ibu-ibu penggiat PKK di Purwosari, yang mencoba mengaplikasikan dari 10 butir program PKK. Kesempatan mendirikan usaha bandeng berada di kewenangan Kelompok Kerja (Pokja) 2 yang menangani program sandang, pangan, dan rumah tangga.

Pada waktu itu, tercetusnya usaha bandeng bagi warga Purwosari dilaksanakan guna meningkatkan pendapatan keluarga oleh kaum wanita yang rata-rata berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pada permulaan, kelompok usaha bandeng tersebut masih bernama Wanita Tani dan Nelayan, yang kemudian berganti nama menjadi Kelompok Usaha Bersama (Kube) pada 1996. Sesuai kebijakan pemerintah, nama kelompok pun kembali berubah menjadi klaster bandeng, sentra bandeng, hingga akhirnya ditetapkan Kampung Tematik Bandeng pada 2017 oleh Pemkot Semarang.

''Usaha bandeng dari warga Purwosari ini awalnya ada 76 unit pada 1996. Seiring berjalannya waktu, keanggotaannya semakin sedikit jumlah pengusaha yang bertahan. Walaupun begitu, saya tetap akan gigih untuk menjalankan usaha pengolahan bandeng presto ini,'' ujar salah satu pengusaha bandeng presto asal Kampung Purwosari, Hartini Darmono (66), saat dijumpai di kediamannya, Minggu (22/9).

Menurut dia, berkurangnya jumlah pengusaha bandeng terjadi karena pada waktu dibentuk menjadi sentra usaha bandeng. Kelompok pengusaha dipecah menjadi 5-10 kelompok, untuk dapat menerima kucuran bantuan dari pemerintah.

''Harusnya, bantuan diserahkan kepada sentra usaha bandeng agar selanjutnya dapat digunakan untuk pengolahan bersama-sama. Namun, bantuan justru diberikan dengan membaginya ke dalam beberapa kelompok. Hingga akhirnya, ada usulan dari sebagian warga Purwosari untuk mengganti usaha bandeng menjadi tahu bakso,'' kata pemilik bandeng presto, Bu Darmono tersebut.

Menurut dia, keinginan yang disampaikan pada 2016 tersebut, ditindaklanjuti dengan adanya penghapusan sentra bandeng atau kampung tematik bandeng dari Purwosari. Hanya saja, usulan sebagian warga tersebut ditolak oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

''Saya pribadi yang masih berkeinginan untuk mempertahankan usaha bandeng, kemudian lebih memilih mendirikan UD Mina Makmur. Untuk menaungi usaha bandeng presto Bu Darmono. Sekaligus sebagai bukti dan menjadi jujugan masyarakat sekitar bahwa kampung ini telah dikenal dengan usaha bandengnya,'' tambahnya, yang memiliki lokasi usaha di Jalan Purwosari IV/17, Tambakrejo, Gayamsari tersebut.

Upaya kegigihannya yang terus berusaha bertahan dengan usaha bandeng presto, dibuktikannya dengan pembuatan sertifikat ber-SNI. Hingga menjadikan usahanya resmi dan diakui kualitasnya. Sertifikat tersebut mulai diperoleh pada 2014 dengan izin usaha bandeng presto, bandeng duri lunak, bandeng isi, maupun olahan makanan otak-otak bandeng.

''Usaha bandeng saya pun sempat mengalami kejatuhan. Pada 2008, saya pernah ditipu oleh seseorang broker yang mengaku mampu menjual produk bandeng ke luar negeri. Angka kerugian mencapai Rp400 juta,'' kata dia.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

Pemkab Grobogan Bakal Perketat Pengawasan Orang Asing

Jumat, 24 September 2021 | 20:29 WIB
X