Budaya Masyarakat Bawa Ambon Menjadi Kota Toleran

- Senin, 26 Agustus 2019 | 23:35 WIB
Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, dalam Seminar Ambon: Menuju Kota yang Inklusif dan Toleran
Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, dalam Seminar Ambon: Menuju Kota yang Inklusif dan Toleran

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jauh sebelum konflik mencabik-cabik Kota Ambon pasca pergantian kekuasaan politik Indonesia, telah terjalin budaya yang saling menghormati dan menghargai antara satu dengan lainnya. Ambon menurut Wali Kota Richard Louhenapessy, merupakan kota kecil di ujung timur Indonesia tetapi mempunyai nama yang besar.

Berabad-abad lalu, pedagang dari Arab, India, China, Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris silih berganti, berebut pengaruh untuk memerebutkan sebuah komoditi yang paling berharga kala itu, rempah-rempah. Akibatnya tidak hanya nama marga yang mendapat pengaruh dari berbagai bangsa tersebut tetapi juga kepercayaan yang dianut oleh penduduknya pun bermacam-macam.

"Nilai budaya asli kami tetap terjaga meski tercipta berbagai kebudayaan dari hasil perjumpaan dengan bangsa lain yang telah mengunjungi kota dan kepulauan-kepulauan di sekelilingnya. Kami saling menghormati dan memahami satu dengan yang lain," kata Richard, dalam Seminar Ambon: Menuju Kota yang Inklusif dan Toleran" di ruang teater Thomas Aquinas Unika Soegijapranata, Senin (26/8).

Tetapi akibat sentralisme kekuasaan dan penyeragaman pada semua lini kehidupan masyarakat, yang dipraktekkan pada era Orde Baru, termasuk pranata adat di dalamnya padahal tidak cocok dengan kondisi riil di daerah itu. Mengakibatkan sambungnya, adanya distorsi kebudayaan.

"Budaya sebagai kekuatan perekat tidak mampu lagi menjadi kohesi sosial bagi masyarakat," tambahnya.

Puncaknya ketika terjadi pergantian kekuasaan politik, Ambon menjadi daerah konflik yang luar biasa dasyat. Tetapi ketika era reformasi pemerintah pusat membuka keran ruang dan peluang mengembangkan nilai-nilai budaya daerah, semua pihak sambungnya, baik dari masyarakat mau pun pemerintah melihat ada kesempatan untuk mengedepankan nilai kearifan budaya yang sesuai kondisi masyarakat.

"Budaya Pela Gandong, di mana mengatur hubungan antara satu komunitas dengan komunitas lain. Tidak hanya satu desa dengan desa yang lain, menjadi perekat budaya," tutur Richard.

Kemudian contoh lainnya, belajar dari pengalaman sebelumnya maka kini setiap ada acara kecuali kenegaraan. Menurutnya selalu dibacakan dua doa keagamaan, baik Islam dan Katolik atau Kristen dan Islam. Masyarakat pun mulai peka jika adat dan budaya tersebut tidak dilakukan.

Ketua Pusat Studi Urban Unika Soegijapranata, Dr Y Trihoni Nalesti Dewi SH MHum menyatakan, sangat perlu mengangkat sebuah kearifan lokal masyarakat di Kota Ambon sebagai contoh toleransi di Indonesia. Kota Ambon menurutnya, dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia, mampu bangun dari konflik yang pernah memecah belah masyarakatnya.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Baznas Wisuda 32 Sarjana Penerima Beasiswa Produktif

Senin, 29 November 2021 | 23:25 WIB

Dinkes Kota Semarang Juara 1 IT Kesehatan

Senin, 29 November 2021 | 21:56 WIB

Buruh Jateng Kembali Demo, Tolak UMP 2022

Senin, 29 November 2021 | 20:07 WIB

DAS Rawan Banjir di Kota Semarang Terpantau Masih Aman

Senin, 29 November 2021 | 13:43 WIB

Semarang Jadi Kota Pembangunan Terbaik di Indonesia

Minggu, 28 November 2021 | 22:20 WIB

Kota Semarang Tuan Rumah AHL Germas Tingkat Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 19:26 WIB
X