Gus Mus: Mencontoh Rasulullah Jangan Hanya Jubahnya

- Senin, 1 Juli 2019 | 22:35 WIB
Mustasyar PBNU KHA Mustofa Bisri menyampaikan tausiah dalam rangka Haflah Akhirussanah Wisuda I Jurumiyyah dan Tahfidzul Quran santri Pondok Pesantren Fadhlu Fadhlan, Desa Pesantren, Kecamatan Ngalian, Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)
Mustasyar PBNU KHA Mustofa Bisri menyampaikan tausiah dalam rangka Haflah Akhirussanah Wisuda I Jurumiyyah dan Tahfidzul Quran santri Pondok Pesantren Fadhlu Fadhlan, Desa Pesantren, Kecamatan Ngalian, Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Mustasyar PBNU, KHA Mustofa Bisri atau Gus Mus mengajak santri untuk terus mendalami ajaran agama secara sungguh-sungguh melalui guru atau kiai di pondok pesantren. ‘’Tidak cukup memelajari Al Quran hanya dari kitab terjemahan Kementerian Agama. Makanya kiai-kiai pondok mengajarkan santri kali pertama Kitab Jurumiyyah atau Al-Jurumiyyah, kitab tipis dan kecil mempelajari tata bahasa atau gramatikal Bahasa Arab agar mereka kelak tidak hanya mampu membaca Alquran tetapi mengerti maknanya, menikmati sekaligus paham isinya secara benar,’’ tegasnya.

Gus Mus menegaskan hal itu dalam tausiahnya dalam rangka Haflah Akhirussanah Wisuda I Jurumiyyah dan Tahfidzul Quran santri Pondok Pesantren Fadhlu Fadhlan, Desa Pesantren, Kecamatan Ngalian, Semarang, kemarin. Dia merasa bersyukur dan senang karena Dr KH Fadlolan Musyaffa Mu’thi, pengasuh pesantren itu mengajarkan Kitab Jurumiyyah kepada santri-santrinya. Kitab tersebut disusun oleh ahli bahasa dari Maroko bernama Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum (wafat 1324 M). Rumus-rumus dasar pelajaran bahasa Arab klasik ditulis dengan bentuk berima untuk memudahkan dalam menghapal. Di lingkungan masyarakat Arab kitab ini menjadi salah satu kitab awal yang dihapalkan selain Al Quran.

Ribuan santri dari berbagai pondok se-Kota Semarang dibuat terpukau saat para santri putri dengan lancer menghafal kitab Al-Jurumiyyah tersebut. Alkalamu huwallafdzul murakkabul mufidu bilwadí’i. Setelah itu mereka juga mendemonstrasikan hafalan Al Quran dalam beberapa surat dengan tidak membaca.

Beberapa kiai tampak ikut bertepuk tangan antara lain Ketua Umum MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, mantan Ketua PWNU Jateng, Drs H Achmad, dan Dr H Abu Hapsin, Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang, KH Khanief Ismail Lc, Dr Ardja Imroni, dan beberapa ulama dari Turki.

Mempertahankan Akhlak

Menurut Gus Mus, mencontoh Rasulullah jangan hanya jubahnya. Tetapi akhlaknya, sopan santunnya, perilakunya dan semua sunnah-sunnahnya. ‘’Belakangan banyak orang bilang kembali ke Al Quran dan Sunnah Rasul tapi akhlak dan perilakunya sama sekali tidak mencerminkan perilaku Rasulullah. Suka membuat gaduh dan kisruh di masyarakat,’’ katanya.

Menurut data Kementerian Agama RI, pada tahun 2019 terdapat 25.938 pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara dengan jumlah santri sebanyak 3.962.700 orang. Di antara tiga juta lebih santri itu, perlu tolok ukur supaya mereka bisa masuk kategori santri ideal.

Menurut Gus Mus santri yang ideal adalah santri yang mempertahankan akhlak santri salaf. Akhlak santri salaf yang pertama yaitu mengamalkan ilmunya dengan menjaga perilaku. ‘’Para kiai selalu menganjurkan ilmu itu harus diamalkan. Tidak hanya mempelajari misalnya bagaimana sifat-sifatnya Kanjeng Nabi. Kalau sudah tahu, kita mencoba melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi. Jadi pertahankan akhlak yang seperti itu.” katanya.

Selain itu, jangan pernah ketinggalan perkembangan zaman. Jadi landasannya itu akhlak santri yang salaf tapi pengetahuannya jangan sampai terbatas hanya itu-itu saja.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Beraksi di 16 Minimarket, Pelaku Ditangkap

Jumat, 28 Januari 2022 | 23:17 WIB

Polres Kendal Musnahkan 359 Knalpot Brong

Jumat, 28 Januari 2022 | 22:37 WIB

Tahap Pembangunan Tol Bawen-Yogyakarta Dibalik

Rabu, 26 Januari 2022 | 23:57 WIB
X