80 Persen Mangrove di Jawa Punah

- Sabtu, 22 Juni 2019 | 02:09 WIB
Warga beraktivitas di tambak sekitar pesisir Pantai Mangunharjo, Kecamatan Tugu Semarang, Jumat (21/6). Sebagian jalan menuju pantai tergenang air dampak laju abrasi. (suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)
Warga beraktivitas di tambak sekitar pesisir Pantai Mangunharjo, Kecamatan Tugu Semarang, Jumat (21/6). Sebagian jalan menuju pantai tergenang air dampak laju abrasi. (suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Yayasan Konservasi Alam Nusantara The Nature Conservancy (TNC), merupakan lembaga Internasional. Keberadaan TNC di Indonesia berupaya mengembangkan konservasi dan rehabilitasi bakau (Mangrove) di Indonesia. Berdasarkan data TNC, lebih dari 50 persen hutan Mangrove di Indonesia mulai punah. Adapun keberadaan hutan Mangrove di Jawa, lebih dari 80 persen juga mengalami kepunahan.

Kemudian sekitar 20 persen hutan Mangrove yang sekarang tersisa dan tersebar hanya bisa dijumpai di daerah Jawa Timur hingga Banten. Maka target pada 2022, TNC akan melakukan rehabilitasi Mangrove.

Adapun target secara nasional rehabilitasi Mangrove di seluruh Indonesia dapat menanam 500 ribu hektar pohon mangrove. Saat ini total luas hutan Mangrove di Indonesia hanya sekitar 3,5 juta hektar. 

Maka TNC melalui Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA), bekerja sama dengan PT Djarum melaksanakan kunjungan di Mangunharjo, Mangkang Wetan, Jumat, (21/6).

Mereka di lapangan dalam rangka meninjau program pengembangan perencanaan restorasi pesisir. Mereka akan fokus pada pembangunan pengetahuan untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, sumber daya dan aset, serta mitigasi dan adabtasi terhadap perubahan iklim. 

Direktur Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA), Imran Amin mengatakan, sebagian besar hutan Mangrove berada di luar Jawa dan hutan Mangrove di Jawa mulai terkikis. Hal itu sangat memprihatinkan, karena sebagian besar keberadaan Mangrove telah terkonversi menjadi tambak, perumahan dan pabrik. 

Menurutnya, walaupun pemerintah daerah maupun pusat telah mengetahui terjadi abrasi besar di sekitar Pantura. Tapi dalam pencegahan abrasi hanya mencari solusi dengan membangun beton. Padahal dengan mengembangkan ekosistem Mangrove menjadi lebih efisien dan efektif dalam menanggulangi abrasi. 

"Sebagaimana abrasi yang terjadi di pantai Mangunharjo. Sekitar 1 kilometer lebih daerah tersebut terdampak abrasi. Akibat ancaman abrasi itu, kesadaran masyarakat Mangunharjo tumbuh dengan sendirinya. Mereka mulai sadar untuk mengembangkan ekosistem Mangrove. Hanya saja perlu diperkaya terkait metodologi penanaman Mangrove. Sehingga dalam upaya kedepan tak hanya sekadar menanam tetapi secara ekologis hutan Mangrove dapat kembali secara alami," ujar Imran. 

Pihaknya juga berupaya  mengembalikan jenis Mangrove yang dulu pernah ada di Jawa. Selama ini penanaman Mangrove hanya  ada satu jenis saja yaitu Mangrove jenis hijaupora. Maka diupayakan kedepan tak hanya menanam hanya satu jenis Mangrove. 

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

Parkir Tepi Jalan Akan Diberlakukan Elektronik

Selasa, 25 Januari 2022 | 21:44 WIB

Kauman Kampung Quran Jadi Jejak Syiar Peradaban Islam

Senin, 24 Januari 2022 | 07:45 WIB
X