Ngilo Githoke Dewe

- Kamis, 5 Agustus 2021 | 22:15 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

NGILO artinya berkaca, melihat diri sendiri lewat kaca. Githok artinya tengkuk, leher bagian belakang yang tidak bisa diliha oleh yang bersangkutan. Karena githok tidak bisa disaksikan sendiri, maka sering orang mengatakan "ora bisa nyawang githoke dewe" Tidak bisa melihat tengkuknya sendiri.

Dari sini diambil makna bahwa orang, termasuk kita tidak bisa melihat kekurangan dan kesalahannya sendiri. Itu sesuatu yang manusiawi. Tetapi apabila levelnya sudah meningkat menjadi tidak mengakui bahwa dia mempunyai kekurangan kesalahan, lha inilah yang menjadi sasaran para sepuh menyampaikan pitutur ini.

Memang pitutur ini lebih dialamatkan kepada mereka yang merasa tidak mempunyai kesalahan, bahkan sering membantah meskipun sudah disampaikan bukti-bukti yang cukup. Orang begini sulit menilai diri, dan tidak mau melakukan evaluasi.

Sebenarnya kalau mau, dia bisa melihat githoknya sendiri diri dengan menggunakan bantuan cermin satu lagi di belakang kepalanya. 

Dengan bantuan dua cermin itu dia bisa melihat dirinya yang ada di depan dan dirinya yang ada di belakang. Fungsi cermin di belakang untuk melihat githoknya itu bisa digantikan oleh orang lain, diminta atau tidak.

Orang lainlah yang menjelaskan kepadanya mengenai kesalahan dan kekurangannya. Tetapi jarang orang yang mau menerima kritik itu. Kebanyakan orang akan merasa sakit hati dan seperti sedang ditampar oleh pemberi kritik.

Dia tak mau dikatakan salah dan akan marah serta menjadikan pemberi kritik itu sebagai musuh.

Ya seperti kata peribahasa "buruk muka cermin dibelah". Mestinya sesuai  pitutur kali ini dia berterimakasih karena orang sudah membantu apa yang dia tak bisa lakukan, yaitu menemukan kekurangan diri. Dia sadar tak ada manusia sempurna. Dia tidak merasa paling benar dan tidak mungkin salah.

Dengan menemukan kekurangan maka orang akan tahu mana yang harus diperbaiki. Mereka yang siap menerima kritik ini, siap melakukan evaluasi, karena memandang evaluasi sangat diperlukan untuk mewujudkan kemajuan di masa datang.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Amalkan Shalawat Ini, Dapatkan Syafaat di Hari Kiamat

Selasa, 19 Oktober 2021 | 07:12 WIB

Bau Badan dan Mulut? Ini Doanya

Senin, 18 Oktober 2021 | 09:06 WIB

Dom Sumurup Ing Banyu

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:39 WIB

Penjalin Rotan Kiai Imam Sarang

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:08 WIB

Wasiat Rasulullah dan Perlindungan Sosial

Jumat, 15 Oktober 2021 | 04:45 WIB

Keharusan Moderasi Beragama

Jumat, 15 Oktober 2021 | 04:10 WIB
X