Gajah Tumbuk Karo Gajah Kancil Mati Ing Tengah

- Kamis, 29 Juli 2021 | 23:46 WIB
Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Darodji./suaramerdeka.com/dok
Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Darodji./suaramerdeka.com/dok

Tumbuk dalam hal ini berarti tabrak. Ucapan ana montor tumbukan, artinya ada mobil bertabrakan. Jadi apabila ada gajah tumbuk artinya ada gajah berkelahi head to head, maka kancil yang berada di tengah akan mati.

Gajah adalah gambaran pembesar atau kekuatan besar. Orang yang memiliki kekuasaan atau kewenangan yang besar sering diumpamakan gajah.

Sedang kancil adalah gambaran si kecil atau wong cilik. Artinya bila dua kekuatan raksasa bertempur maka si kecil, atau rakyat kecillah yang hampir selalu menjadi korban.

Memang pada suatu saat si gajah akan menghentikan perkelahian atau pertempurannya demi mengurangi korban lebih besar atau menurut perhitungannya pertempuran itu tidak akan dimenangkannya.

Biasanya gajah kemudian mencari jalan tengah atau win-win solution. Tetapi korban sudah banyak dan hampir selalu yang menjadi korban itu adalah si kancil atau wong cilik. Mungkin dalam hal ini kita bisa belajar misalnya dari permainan catur.

Pecatur selalu bisa memperhitungkan satu atau dua langkah ke depan. Apabila menurut perhitungannya permainan akan berkepanjangan dan sulit dicapai kemenangan maka sering mereka menghentikan permainan.

Kesepakatan bersama untuk menghentikan permainan disebut seri atau draw atau remis. Tetapi hampir dipastikan sudah ada satu dua atau banyak pion atau bidak yang "dikorbankan". Yang pasti, yang dikorbankan itu bukan "pembesar". Nah itulah yang dikhawatirkan oleh para sepuh.

Kalau terjadi bentrok, maka yang menjadi korban adalah wong cilik. Apa nasib mereka memang harus begitu. Apa mereka selalu harus menjadi tumbal. Kalau para sepuh bisa berpesan sekarang, mungkin mereka akan mengatakan "wahai kalian yang mendapat amanah sebagai pemimpin, kalian yang memiliki kekuasaan dan kewenangan.

Kasihanilah wong cilik anak buahmu. Jangan bermusuhan, jangan gunakan kekuasaanmu untuk bentrok, karena mesti mereka menjadi korban. Clash atau peperangan itu kini tidak selalu berwujud perang fisik. Bisa jadi perang ideologi, perang politik misalnya menjelang dan saat pilkada, perang kebudayaan bahkan perang cyber.

Dalam setiap peperangan selalu ada musuh, meskipun terkadang istilahnya diperhalus menjadi rival atau pesaing. Tetapi tetap saja mereka adalah musuh dan di situ ada korban. Maka para sepuh menasehati kita "Ojo golek mungsuh, mungsuh siji wae wis kakehan". Ironisnya "pertempuran" itu sering digunakan untuk kepentingan pribadi. Na'udzu billahi min dzalik.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Apapun Hajatmu, Bacalah Doa Mustajab Ini

Sabtu, 25 September 2021 | 20:39 WIB

Doa Sebelum dan Sesudah Makan, Begini Lafadz dan Artinya

Sabtu, 25 September 2021 | 08:48 WIB

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kamis, 23 September 2021 | 22:40 WIB

KHM Mustajab, Pendiri Pondok Islahut Tholibin

Kamis, 23 September 2021 | 22:25 WIB

Pesantren Agen Perjuangan Kelas

Kamis, 23 September 2021 | 22:15 WIB

Endhas Gundhul Dikepeti

Kamis, 23 September 2021 | 22:01 WIB

Pentingnya Menjaga Shalat Lima Waktu

Senin, 20 September 2021 | 17:13 WIB

Ini Keringanan Shalat bagi Musafir

Senin, 20 September 2021 | 10:17 WIB

Gajah Alingan Suket Teki

Jumat, 17 September 2021 | 07:15 WIB

Perpres Dana Abadi Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 06:30 WIB

KH. Abdullah Sajad, Perintis Dakwah di Semarang Wetan

Jumat, 17 September 2021 | 05:50 WIB

Perempuan dan Literasi Keuangan

Jumat, 17 September 2021 | 05:39 WIB
X