Strategi “Perang” Rasulullah dalam Berbisnis

- Jumat, 30 September 2022 | 08:26 WIB
Rektor Universitas Dian Nuswantoro UDINUS, Prof Dr Ir H Edi Noersasongko MSc. (suaramerdeka.com/dok)
Rektor Universitas Dian Nuswantoro UDINUS, Prof Dr Ir H Edi Noersasongko MSc. (suaramerdeka.com/dok)

 

DALAM peperangan, yang menang akan mendapatkan segalanya dan yang kalah pasti akan mati.

Dalam peperangan, tidak ada kata persaudaraan ataupun kata persahabatan, yang penting bagaimana caranya kita bisa menang agar tetap bisa hidup.

Dunia bisnis pada saat ini, juga bisa dikatakan sebagai bentuk peperangan modern, yang menang akan mendapat segalanya dan yang kalah pasti akan mati.

Oleh karena itu, para executives perusahaan perlu  merancang dan mengembangkan serangkaian taktik yang rumit yang mengarah pada kemenangan agar perusahaan yang dipimpinnya tetap bisa hidup.

Semenjak Nabi Muhammad SAW di angkat sebagai Rasulullah, banyak peperangan yang dijalaninya baik sebagai perlawanan terhadap musuh maupun memperluas area dakwah.

Dua diantaranya adalah perang badar, dan perang khondak. Dan kedua peperangan tersebut kemenangan gemilang diperoleh kaum mulimin walau dari sisi jumlah pasukannya jauh lebih sedikit dibanding musuh.

Ini semua tidak lepas dari ketrampilan strategi perang Nabi Mumahhad SAW.

Setiap kali akan berangkat ke medan perang, nabi Muhammad berdiskusi terlebih dahulu dengan sahabat-sahabat tentang kondisi perang yang akan dihadapi. Kemudian, nabi akan menyuruh telik sandi untuk melihat peta kekuatan lawan, termasuk panglima perangnya.

Setelah jelas semua, Nabi menentukan jumlah pasukan, peralatan perang yang akan digunakan dan panglima perang yang ditunjuk termasuk penggantinya jika panglimanya meninggal.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Pesan Habib Jafar Al Hadar untuk Generasi Muda

Senin, 28 November 2022 | 22:58 WIB
X