Maulid Nabi

- Kamis, 22 September 2022 | 23:12 WIB
Dr Hj Arikhah, Pengurus MUI Provinsi Jateng. (suaramerdeka.com/dok)
Dr Hj Arikhah, Pengurus MUI Provinsi Jateng. (suaramerdeka.com/dok)

 

LIMA hari lagi dalam penanggalan komariah kita memasuki bulan Robi'ul Awal yang dikenal orang Jawa sebagai bulan Mulud, karena didalamnya ada peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW (maulidur Rosul).

Hari kelahiran Nabi yang sering disebut dengan Maulid Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam memiliki keistimewaan tersendiri.

Pada moment ini, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakannya dengan berbagai macam acara yang kesemuanya dimaksudkan untuk mengingat kembali perjuangan beliau sebagai hal yang musti menjadi suri teladan bagi ummatnya.

Peringatan Maulid dalam bentuk perayaan tidak pernah dilakukan pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW mengingat Nabi Muhammad adalah sosok pribadi yang sangat tawadlu (rendah hati).

Nabi mengagungkan hari kelahirannya dengan melakukan puasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari  Abu Qatadah ra, sesungguhnya Rasulullah telah ditanya perihal puasa pada Senin, beliau bersabda:

“Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan”,

Terkadang beliau tambahkan dengan mengundang makan-makan kepada para sahabat dihari senin.

Pada masa itu perhatian Nabi Muhammad dan  umat Islam masih terfokus kepada perkembangan Islam, pembumian tauhid kepada Allah SWT, dakwah tentang pengangkatan derajat manusia dari yang hina (jahiliyah-hayawaniyah) menjadi manusia yang mulia lagi bermartabat dengan menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah, serta ibadah-ibadah lainnya.

Sehingga peringatan atau perayaan besar-besaran dalam rangka menghormati kelahiran Nabi Muhammad SAW belum terealisasi saat itu.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Pesan Habib Jafar Al Hadar untuk Generasi Muda

Senin, 28 November 2022 | 22:58 WIB
X