Kiai Zain, Generasi Penerus Pesantren Darussalikin Wonosobo

- Kamis, 22 September 2022 | 23:04 WIB
Kiai Zain Wonosobo. (suaramerdeka.com/dok)
Kiai Zain Wonosobo. (suaramerdeka.com/dok)

MENURUT Nanang QH (2022), KHA Zainuddin adalah putra ketujuh dari sepuluh bersaudara. Ayah Kiai Zain, Kiai Maksum, merupakan 'muassis' alias perintis Pondok Pesantren Darussalikin (1939) yang berlokasi di Templelsari.

Sekadar catatan, Tempelsari adalah nama sebuah dusun di wilayah Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Desa Madurertno sendiri terdiri dari lima dusun, yakni: Tempelsari, Ngabean, Madusari, Kebondalem, dan Larangan.

Adapun Kecamatan Kalikajar secara administratif terdiri dari 18 desa dan satu kelurahan, meliputi: Desa Mangunrejo, Mungkung, Perboto, Rejosari, Kedalon, Karangduwur, Kwadungan, Purwojiwo, Simbang, Maduretno, Kembaran, Lamuk, Tegalombo, Kalikuning, Wonosari, Bowongso, Butuh Kidul, Butuh, dan Kelurahan Kalikajar.

Untuk diketahui, Kalikajar adalah kelurahan dan sekaligus ibukota kecamatan. Wilayah kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Kertek (utara), Sapuran (timur-selatan), Kaliwiro dan Selomerto (barat).

Adalah di Dusun Tempelsari, seorang ibu bernama Nyai Mardhiyah melahirkan seorang bayi mungil lelaki yang pada kemudikan dikenal sebagai KHA Zainuddin -selanjutnya singkat: Kiai Zain. Putra pasangan Kiai Maksum dan Nyai Mardhiyah ini lahir pada 1935.

Zainuddin kecil pertama kali belajar agama kepada sang ayah, Kiai Maksum. Memasuki usia remaja, Zainuddin muda mengaji kepada kakaknya sendiri, Kiai Ibnu Hajar bin Maksum, di Pesantren Darussalikin. Pada zamannya, sang kakak terbilang ulama yang cukup karismatik.

Selain santri mukim, santri non-mukim (santri kalong) berdatangan dari berbagai penjuru desa di sekitar Kecamatan Kertek dan Kalikajar dengan berjalan kaki. Mereka menuju Pesantren Tempelsari untuk menimba ilmu kepada Kiai Ibnu Hajar. Pemandangan khas ini tersua terutama di bulan Ramadhan.

Zainuddin muda nyantri di tempat kakaknya, seperti santri pada umumnya; ia tetap menjaga sikap dan memposisikan diri sebagai seorang santri. Bahkan, ia dikenal santri yang disiplin dan selalu sendiko dhawuh pada perintah sang kiai yang notabene kakaknya sendiri.

Saat hendak bepergian, misalnya, santri Zainuddin selalu berpamitan dan bersalaman dengan sang kiai. Demikian pula saat kembali. Melapor, berjabat dan cium tangan.

Melihat hal itu, boleh jadi sang ayah Kiai Maksum merasa trenyuh. Pada akhirnya, dikirimlah Zainuddin muda ke Pesantren Kiai Nashoha di Kebumen. Di sana ia bertahan sebulan, kemudian pindah ke Pesantren Kiai Ahmad Asy’ari di Poncol Salatiga.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Artikel Terkait

Terkini

X