Kiai Ali Maksum, Tokoh Modernis NU Kelahiran Lasem

- Jumat, 16 September 2022 | 07:49 WIB
KH Ali Maksum Lasem. (suaramerdeka.com/dok)
KH Ali Maksum Lasem. (suaramerdeka.com/dok)

BAYI mungil Ali Maksum lahir di Lasem (Kabupaten Rembang) pada Selasa Kliwon, 2 Maret 1915.

Putra KH Ma’shum dan Nyai Hj Nuriyah ini pada kemudian dikenal sebagai pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Semasa kecil, Ali belajar ilmu agama kepada ayahnya di Lasem. Pada tahun 1927, remaja Ali dikirim sang ayah ke Pesantren Tremas Pacitan asuhan KH Dimyati.

Tiga tahun pertama nyantri di Tremas, remaja Ali tidak pernah pulang kampung.

Ada semacam keyakinan, santri yang mondok di Tremas dan selama tiga tahun pertama tidak pulang kampung, menjadi pertanda bahwa dirinya akan sukses menyerap ilmu dan kelak menjadi seorang ulama atau kiai (lihat Badrun & Humaidy, 1995: 109).

Selama di Tremas, pemuda Ali merupakan santri yang cukup menonjol, bahkan ditunjuk oleh KH Dimyati untuk ikut mengajar para santri yunior.

Ali Maksum muda menaruh perhatian lebih pada ilmu Tafsir Al-Qur'an dan Bahasa Arab.

Konon, atas penguasaannya terhadap kamus Munjid karya Louis Ma'luf, Kiai Ali mendapat julukan "Munjid berjalan".

Adapun penguasaan atas ilmu tafsir Al-Qur'an dapat dirunut bahwa Kiai Ali dikenal sebagai ulama hafidz Qur'an sekaligus salah satu ahli tafsir tersohor pada zamannya.

Delapan tahun lamanya Kiai Ali mondok di Pesantren Tremas. Tak lama setelah pulang kampung, Kiai Ali dinikahkan dengan Rr Hasyimah binti KH Munawir Krapyak Yogyakarta (1938).

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menyikapi Bencana Alam

Jumat, 2 Desember 2022 | 13:47 WIB

Pitutur: Adoh Tanpa Wangenan Cedak Tanpa Senggolan

Jumat, 2 Desember 2022 | 11:19 WIB

Kiai Mukhlis Lesmana, Karya Tulisnya Tak Terpublikasi

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:42 WIB

Passive Income

Kamis, 1 Desember 2022 | 21:52 WIB

Ini Pesan Habib Jafar Al Hadar untuk Generasi Muda

Senin, 28 November 2022 | 22:58 WIB
X