Ini Makna Menabur Bunga saat Melakukan Ziarah Kubur

- Kamis, 15 September 2022 | 18:07 WIB
Ilustrasi. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berziarah ke makam Sunan Pandanaran II, atau yang lebih dikenal dengan Sunan Bayat.  (SM/Hendra Setiawan)
Ilustrasi. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berziarah ke makam Sunan Pandanaran II, atau yang lebih dikenal dengan Sunan Bayat. (SM/Hendra Setiawan)

Ini karena sebelum agama dari luar tersebut masuk, masyarakat Jawa juga sudah mengenal tentang Tuhan, Sang Pencipta Alam, Pamurba Alam Raya (macro cosmos).

"Dari sinilah masyarakat meyakini bahwa ketika manusia setelah mati, jazadnya yang mati,''

''Namun ruh akan kembali kepada Tuhan, pemaduan dua ajaran antara Kejawen (kaweruh tentang kehidupan keyakinan jawa) dengan Agama Islam,''

''Maka lahirlah sebuah tradisi jelang bulan suci ramadan, berupa nyekar/kepyok," papar Budayawan Bojonegoro, Suyanto.

Bahkan, juga ada tradisi membersihkan makam dan juga nyekar.

Yaitu membawa sekar (bunga wewangian) untuk ditaburkan ke makam leluhur/keluarga. Nama kepyok sendiri sama halnya seperti nyekar.

Adapun budayawan dan juga penulis buku "Saya, Jawa dan Islam” Irfan Afifi pernah mengatakan, tabur bunga saat ziarah kubur sudah dilakukan sejak lama.

Penggunaan bunga saat ziarah kubur mengandung alasan sederhana, yakni aromanya yang wangi.

"Kenapa bunga? Karena wangi, maksudnya untuk wewangian," ujar Irfan.

Bagi orang Jawa lama, bunga menjadi sumber wewangian yang mudah ditemukan.

Halaman:

Editor: Hendra Setiawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X