Kiai Abdul Hamid Pasuruan Asal Lasem

Red
- Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB
Kiai Haji Abdul Hamid atau Mbah Hamid
Kiai Haji Abdul Hamid atau Mbah Hamid

Meski tinggal di lingkungan Pesantren Salafiyah, KH Abdul Hamid belum ikut terlibat pada aktivitas pengajaran. Beliau masih ikut menimba ilmu melalui pengajian rohah atau membaca kitab secara bergantian yang diadakan Habib Ja'far bin Syaikhan, ulama kenamaan Pasurauan di rumahnya setiap ashar hingga selesai isya.

Tahun 1951 KH. Abdullah bin Yasin yang menjadi pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan wafat, putranya yang bernama Kiai Aqib diangkat menjadi pengganti, namun karena masih sangat muda dan masih harus menimba ilmu di Pesantren Al-Hidayah Lasem, Haji Abdul Hamid kemudian didaulat untuk menjalankan kepemimpinan Pesantren Salafiyah.

Haji Abdul Hamid mulai menjalankan pesantren yang telah ditinggal banyak santrinya karena tak tahan dengan kepemimpinan KH. Abdullah bin Yasin yang sangat keras. Lambat laun santri mulai berdatangan, tahun 1962 jumlah meningkat sekitar 80 orang. Pembangunanpun dilakukan untuk menampung santri yang mulai bertambah.

Selain mengajar di pesantren, ia juga kerap diminta warga untuk mengisi pengajian di kampung-kampung seperti di Rejoso hingga Ranggeh. Ia juga mengadakan pengajian di pelataran rumah pribadinya yang diisi oleh sekitar 10-15 orang[2].

Karirnya sebagai pendakwah mulai bersinar di kalangan masyarakat Pasuruan dan sekitarnya, ia tak lagi dipanggil "Haji" namun "Kiai" oleh banyak orang, rumahnya kerap didatangi orang-orang yang meminta nasihat dan konsultasi soal kehidupan religius, terlebih setelah Habib Ja'far bin Syaikhan wafat pada tahun 1954.

Kamis, 23 Desember 1982 KH Abdul Hamid dilarikan ke RSI Surabaya setelah mendadak jatuh. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pembekakan jantung, kondisi ginjal dan liver yang juga parah yang seharusnya sudah diketahui dan diobati sejak lama, namun karena tak ingin merepotkan orang lain KH Abdul Hamid tak pernah membicarakan kondisi kesehatannya pada siapapun termasuk kepada keluarganya.

Ia kemudian meninggal dalam usia 70 tahun menurut perhitungan kalender Hijriah pada 9 Rabiul Awwal 1403 H atau 25 Desember 1982. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman wali dan ulama Pasuruan di seberang alun-alun tepatnya di belakang Masjid Agung Al-Anwar Kota Pasuruan bersama puluhan ulama lainnya termasuk gurunya, Habib Ja'far bin Syaikhan Assegaf, kompleks pemakaman ini masih ramai menjadi tujuan wisata religi.

Setiap tahun, agenda haul atau peringatan hari kewafatan KH. Abdul Hamid di Pasuruan selalu menjadi acara besar yang dihadiri ribuan jamaah dari berbagai penjuru. Tak jarang acara haul ini juga dihadiri tokoh-tokoh besar dari organisasi Nahdlatul 'Ulama, tokoh-tokoh politik nasional hingga kepala-kepala daerah di Jawa Timur.

(Abdullah Hamid, Kepala Perpustakaan Stai Al-Hidayat, Lasem)

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Apapun Hajatmu, Bacalah Doa Mustajab Ini

Sabtu, 25 September 2021 | 20:39 WIB

Doa Sebelum dan Sesudah Makan, Begini Lafadz dan Artinya

Sabtu, 25 September 2021 | 08:48 WIB

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kamis, 23 September 2021 | 22:40 WIB

KHM Mustajab, Pendiri Pondok Islahut Tholibin

Kamis, 23 September 2021 | 22:25 WIB

Pesantren Agen Perjuangan Kelas

Kamis, 23 September 2021 | 22:15 WIB

Endhas Gundhul Dikepeti

Kamis, 23 September 2021 | 22:01 WIB

Pentingnya Menjaga Shalat Lima Waktu

Senin, 20 September 2021 | 17:13 WIB

Ini Keringanan Shalat bagi Musafir

Senin, 20 September 2021 | 10:17 WIB

Gajah Alingan Suket Teki

Jumat, 17 September 2021 | 07:15 WIB

Perpres Dana Abadi Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 06:30 WIB

KH. Abdullah Sajad, Perintis Dakwah di Semarang Wetan

Jumat, 17 September 2021 | 05:50 WIB

Perempuan dan Literasi Keuangan

Jumat, 17 September 2021 | 05:39 WIB
X