Kesetiakawanan Sosial Pascakurban

- Kamis, 22 Juli 2021 | 20:27 WIB
Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., Sekretaris MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com / dok)
Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., Sekretaris MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com / dok)

Walhasil, Ibrahim telah lulus dari ujian Allah, sehingga Allah menggantikan putranya tersebut dengan seekor domba yang disembelih.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad yang melestarikan ajaran Ibrahim, ujian untuk kita bukanlah mengorbankan anak, tetapi harta benda yang kita cintai. Maukah kita mengurbankan sebagian harta kita untuk mentaati perintah Allah dengan berkurban ini? Nampaknya masih banyak dari kita umat Islam yang belum sadar, sehingga mengannggap kurban hanya sunnah dan cukup dilakukan sekali seumur hidup, yang penting sudah pernah melaksanakan.

Padahal di balik perintah kurban ini adalah ujian keikhlasan kita dalam melaksanakan perintah Allah. Firman Allah SWT: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNYa adalah ketakwaan kamu." (QS Al Haj: 37). Jadi Ibadah kurban adalah ujian ketakwaan dan keikhlasan kita melaksanakan perintah agama, sekaligus sebagai bentuk syukur atas segala nikmat-Nya.

Ibadah kurban ini tidak hanya memiliki dimensi ilahiyah, wujud ketaatan kepada Allah, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Hal ini karena mereka yang berkurban harus berbagi dagingnya dengan masyarakat sekitar, terutama dari keluarga yang kurang mampu.

Dalam keseharian, daging masih merupakan suatu kemewahan yang sangat sulit untuk mereka peroleh karena tidak terjangkau oleh kemampan ekonomi mereka. Karena itu, daging kurban yang mereka terima dari orang-orang yang mampu. Di hari raya haji dan tasyriq mereka bisa merasakan kenikmatan dengan menyantap daging yang lezat. Karena itu, dengan kurban itu kita bisa membantu mensejahterakan masyarakat. Apalagi pada masa Pandemi Covid-19 ini, banyak kalangan yang terdampak. Ekonomi terpuruk, terkena PHK.

Pelajaran penting yang perlu tetap kita jaga dari ibadah kurban ini adalah kepedulian kita terhadap saudar-suadara kita yang kurang beruntung. Dimensi sosial dari ibadah kurban telah mengajarkan kepada kita untuk selalu peduli terhadap sesama.

Karena itu, selepas kurban ini kita harus tetap memelihara kesetiakawanan dan kepedulian kita kepada saudara-suadara kita agar mereka dapat terentaskan dari kesulitan hidup yang dihadapinya. Jangan sampai dimensi sosial dari ibadah kurban ini terhenti dengan selesai ibadah ini.

Tentu dalam bentuk ibadah yang sosial yang berbeda, seperti membantu pendidikan atau peningkatan mereka. Kita harus terus menerus berusaha dan berdoa agar tetap mampu mempertahanakan kesetakawanan dan kepedulian kita. Semoga apa yang kita lakukan mendapatkan ridlo Allah SWT.

Wallahu a'lam bish-shawab

(Dr Hj Ummul Baroroh MAg, sekretaris MUI Jawa Tengah)

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Pentingnya Menjaga Shalat Lima Waktu

Senin, 20 September 2021 | 17:13 WIB

Ini Keringanan Shalat bagi Musafir

Senin, 20 September 2021 | 10:17 WIB

Gajah Alingan Suket Teki

Jumat, 17 September 2021 | 07:15 WIB

Perpres Dana Abadi Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 06:30 WIB

KH. Abdullah Sajad, Perintis Dakwah di Semarang Wetan

Jumat, 17 September 2021 | 05:50 WIB

Perempuan dan Literasi Keuangan

Jumat, 17 September 2021 | 05:39 WIB

Sholawat Nariyah, Tata Cara Mengamalkan dan Manfaatnya

Senin, 13 September 2021 | 17:32 WIB

Kiai dan Santri Punya Ikatan Batin Kuat

Minggu, 12 September 2021 | 20:05 WIB

Seleksi Tilawah Qur'an di Maluku, Jateng Siap Ikuti Semua

Minggu, 12 September 2021 | 18:26 WIB

Kita dan Air

Kamis, 9 September 2021 | 22:35 WIB

Kere Munggah Bale

Kamis, 9 September 2021 | 22:27 WIB

KHA Nashoha, Perintis Pesantren Salafiyah Wonoyoso

Kamis, 9 September 2021 | 22:17 WIB
X