Baladewa Ilang Gapite

- Kamis, 22 Juli 2021 | 20:20 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

Baladewa dalam pewayangan adalah kakak prabu Kresno. Perawakannya gagah, tegak meskipun tidak segagah Bima. Dia menjadi raja di Mandura. Karakternya adalah keras dan agak cepat marah tetapi jujur. Dia dilengkapi senjata yang bernama nanggala. Gapit adalah penjepit wayang kulit yang terbuat dari tanduk kerbau. Terkadang juga dari rotan dan bambu.

Dengan gapit itu maka wayang yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi itu dapat tegak. Apabila gapitnya diambil maka wayang itu akan nglempreg atau lunglai sebagai ujud ketidak berdayaan atau hilangnya keperkasaan.

Dari gambaran makna di atas pitutur ini adalah ajaran agar kita selalu ingat bahwa kita hidup ini selalu bersama dengan yang lain dan akan senantiasa membutuhkan yang lain. Yang lain itulah gapit bagi kita sehingga kita bisa tegak dan beraktifitas. Lihatlah orang sakit yang hanya tiduran di atas ranjang. Dan bisa jadi itu adalah kita.

Apa yang bisa kita lakukan. Makanpun kita disuapi. Belum lagi untuk pipis, buang air, mandi dan berganti pakaian. Ada lagi kunjungan dokter dan obat penyembuh sakit kita. Lebih-lebih bila harus dilakukan operasi.

Semua itu karena gapit, karena bantuan dari yang lain. Kini kita sehat, apakah kita juga sedang bergantung kepada gapit. Sama saja. Dalam semua aspek kita juga membutuhkan orang lain. Bedanya hanya kini kita masih dalam posisi yang lebih baik.

Pitutur ini biasanya dimaknai bahwa posisi itu akan tetap bila ada pendukung. Pendukung itu bisa berupa massa. Bisa berupa koalisi dengan kekuatan lain, bisa berupa dana dan bisa berupa orang yang berpengaruh.

Lantas mengapa contohnya adalah Baladewa. Ya, Baladewa adalah sebuah personifikasi tentang kegagahan, kewenangan dan fasilitas. Sering mereka yang memiliki hal itu lupa bahwa keberhasilannya mengemban amanat sangatlah tergantung dari bantuan dan kerjasamanya dengan orang lain.

Mereka itu bukan hanya yang berada pada strata tinggi atau menengah, tetapi juga mereka yang nampak lemah atau berada pada strata terendah semisal pembawa stempel kantor, pembersih dan pesuruh.

Meskipun teknologi mampu menggantikan mereka, tetapi tetap saja dibutuhkan operator untuk melakukan tugas-tugas itu. Karena itu para sepuh berwasiat kepada para pemegang amanah "ojo dumeh" dan jangan "adigang, adigung adiguna" .

Ingat posisi kita saat ini hanyalah sementara, bahkan sangat sementara dan pasti berakhir. Kita ingin agar akhir kita itu "happy ending". Kita masih dihormati. Kita masih dianggap sebagai bagian dari mereka yang kita tinggalkan.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kiai Abdul Hamid Pasuruan Asal Lasem

Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Harapan Milad Ke-46 MUI

Kamis, 22 Juli 2021 | 21:55 WIB

Kesetiakawanan Sosial Pascakurban

Kamis, 22 Juli 2021 | 20:27 WIB

Baladewa Ilang Gapite

Kamis, 22 Juli 2021 | 20:20 WIB

Niat Baik Saja Tidak Cukup

Minggu, 18 Juli 2021 | 12:47 WIB

Siti Hajar dan Kemandirian Perempuan

Kamis, 15 Juli 2021 | 22:28 WIB

Tumbu Oleh Tutup

Kamis, 15 Juli 2021 | 22:06 WIB

KHR Abdul Fatah, Ulama Besar di Tanah Jawa

Kamis, 15 Juli 2021 | 21:56 WIB

Iduladha 1442 H dan PPKM Darurat

Kamis, 15 Juli 2021 | 21:49 WIB

KH Manaf, Ahli Tirakat dari Mertoyudan

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:48 WIB

Beras Wutah Arang Bali Marang Takere

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:43 WIB

Respon Nabi Terhadap Wabah

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:35 WIB

Siapa Imam di Saat Pandemi?

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:28 WIB
X